Senantiasa terus belajar, memperbaiki diri dan memberikan kemanfaatan bagi yang lain. Hendaknya kehadiran kita ada sesuatu manfaat yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita, baik itu tenaga, pikiran, materi dll. Tampakkan wajah ceria, murah senyum, tidak sekadar simpati saja, tetapi bagaimana bisa berempati. Berbagi dengan sesama, mengutamakan kepentingan saudaranya, saling berlomba dalam kebaikan dan taqwa.


Rabu, 20 Agustus 2014

Agama untuk Perdamaian Dunia

Oleh : Prof. Azyumardi Azra, MA (Cendikiawan Muslim)


Bahwa agama dapat memainkan peran penting untuk perdamaian dunia tidak diragukan lagi. Namun, dalam kenyataannya, agama tidak selalu dapat memainkan peran tersebut.

Dari waktu ke waktu, agama digunakan kelompok yang memiliki agenda keagamaan dan politik tertentu untuk menyebar kebencian, konflik, kekerasan, dan perang. Tensi dan konflik terjadi bukan hanya antaragama, melainkan intraagama -di antara mazhab, aliran, atau denominasi dalam agama tertentu.

Keadaannya bisa lebih parah di daerah atau lokalitas yang secara sosial-budaya relatif homogen, yang tidak memiliki tradisi yang lama dan kuat dalam keragaman, yang secara alamiah menumbuhkan toleransi dan hidup berdampingan secara damai.
 Karena itu, dalam pandangan penulis “Resonansi” ini ketika menyampaikan presentasi terkait tema Simposium Madrid (15-17 Juli 2014) tentang "Promosi Perdamaian Dunia melalui Dialog Antaragama", dialog intra dan antaragama perlu pembudayaan dan penguatan. Indonesia beruntung memiliki tradisi yang relatif panjang sejak akhir 1960-an atau awal 1970-an dengan tiga bentuk dialog: dialog intraagama, dialog antaragama, dan dialog antarumat beragama dan pemerintah.

Tidak banyak negara lain di dunia yang memiliki tradisi dialog intra dan antaragama seperti Indonesia. Dialog diselenggarakan majelis-majelis agama yang ada di Indonesia atau yang berkaitan dengan pihak luar negeri, seperti International Conference of Religion and Peace (ICRP); institusi pemerintah seperti Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB); atau semipemerintah semacam Forum Kerja Sama Umat Beragama (FKUB); dan lembaga advokasi seperti Wahid Institute atau Maarif Institute.

Meski demikian, seperti diungkapkan Wakil Ketua DPD, La Ode Ida, bukan tidak ada gejala intoleransi di Indonesia. Dia mengungkapkan terdapat kelompok-kelompok religio-politik berorientasi transnasional yang aktif menyebarkan paham keagamaannya yang tidak toleran secara internal agama dan juga terhadap penganut agama lain.

Menghadapi kecenderungan seperti itu, dia menyarankan penguatan dan pemberdayaan kaum mayoritas moderat yang terwakili dalam ormas-ormas seperti Muhammadiyah, NU, dan semacamnya yang ada di seluruh Indonesia. “Hanya dengan kewaspadaan dan sikap proaktif membentengi umat Islam arus utama (mainstream), toleransi dan harmoni intra dan antaragama dapat ditumbuhkan."

Argumen La Ode Ida ini senantiasa penting dan relevan karena paham dan praksis keagamaan intoleran bisa menyebar cepat berkat komunikasi instan melalui internet, media sosial, dan televisi. Tanpa ketahanan dan mekanisme peringatan dini yang dapat dibangun ormas-ormas arus utama dalam lapisan keanggotaan dan lingkungan umat, intoleransi dapat merasuki berbagai kalangan umat beragama.

Dalam presentasinya, penulis “Resonansi” ini sepakat, sikap waspada dan proaktif para pemimpin agama dan ormas jelas merupakan faktor penting dalam penguatan peran agama untuk perdamaian dunia. Akan tetapi juga jelas, mereka dengan agama yang mereka peluk bukanlah faktor independen yang bisa berdiri sendiri. Sebaliknya, agama dan penganutnya sedikit banyak tergantung pula pada faktor lain, seperti politik, ekonomi, sosial-budaya, dan hubungan internasional.

Dalam konteks itu, peningkatan peran agama dalam promosi perdamaian dunia perlu didukung kondisi dan iklim politik yang kondusif. Sistem dan proses politik otoriter, represif, dan tidak adil mendorong terciptanya situasi tidak damai yang penuh konflik dan kekerasan. Dalam situasi seperti ini, agama sering dimanipulasi dan para pemimpin agama terkooptasi untuk kepentingan status quo politik.

Karena itulah, perlu penciptaan sistem dan proses politik demokratis yang memberikan kesempatan kepada setiap warga mengekspresikan diri-termasuk dalam bidang keagamaan- secara bebas dan berkeadaban. Dengan politik demokratis, setiap orang dan kelompok agama dapat menumbuhkan iklim keterbukaan dan dialogis untuk memperkuat sikap saling menghormati dan toleransi.

Iklim politik yang kondusif juga diperlukan pada tingkat internasional. Realitas hubungan internasional yang pincang; tidak adil karena adanya negara-negara pemegang hegemoni yang menciptakan situasi tidak damai. Banyak konflik dan perang, seperti antara Palestina dan Israel, tidak pernah bisa diselesaikan secara damai karena kekuatan-kekuatan internasional bersikap tidak adil dan cenderung memihak salah satu pihak tanpa reserve.
Faktor ekonomi juga perlu dipertimbangkan. Selama kondisi ekonomi baik di satu negara tertentu maupun pada tingkat internasional masih pincang, selama itu pula iklim damai tidak bisa tercipta. Karena itu, pemerintah satu negara perlu mengambil kebijakan afirmatif untuk memberdayakan mereka yang tertindas secara ekonomi dan mengangkat mereka ke taraf kehidupan lebih layak.

Jika penataan kehidupan politik dan ekonomi dapat ditata lebih adil, hampir bisa dipastikan kondisi sosial budaya damai dapat pula tercipta. Dalam situasi seperti itu, peran agama dalam promosi perdamaian dan kedamaian dapat terwujud lebih baik pula. Dengan demikian, agama dapat lebih fungsional dalam menciptakan peradaban yang damai.

Sabtu, 05 Juli 2014

Nilai-nilai Ramadan dalam Kehidupan Sosial

Oleh : Ibnu Adam, ST., MM

         Ramadhan merupakan bulan agung (syahrun ‘azhim) yang memiliki keistimewaan luar biasa dibanding bulan-bulan yang lainnya. Sebutan ini dikarenakan bulan Ramadan merupakan kumpulan momentum terjadinya peristiwa-peristiwa penting. Alquran diturunkan pada bulan Ramadan, bahkan Kitab Suci Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadan. Diangkatnya Nabi Muhammad sebagai Rasulullah juga pada bulan Ramadan. Kemenangan-kemenangan besar ummat Islam dalam peperangan melawan orang-orang kafir senantiasa terjadi di bulan suci Ramadan, seperti perang Badar Kubra, Perang Khandaq, Hunain dan bahkan penaklukan (pembebasan) Makkah juga terjadi pada bulan Ramadan. Adanya lailatul qadar yang mulia, terdapat pada bulan Ramadhan dan dilimpahkannya pahala yang berlipat ganda kepada hamba-hamba-Nya yang beramal juga pada bukan Ramadan. Banyak lagi kelebihan bulan Ramadan.

       Kehadiran Ramadan merupakan momentum bagi umat manusia untuk membangun dan mengoreksi diri menuju pribadi yang lebih baik, dalam istilah agama adalah pribadi yang bertaqwa (muttaqin). Ramadan adalah waktu yang tepat bagi manusia untuk melakukan revolusi mental. Selama satu bulan penuh, setiap mukmin ditempa dan dilatih memiliki kualitas kejiwaan yang jujur, sabar, bertanggung jawab, dan amanah, baik kepada diri sendiri, orang lain, maupun kepada Allah SWT. Alquran menyebutkan bahwa produk akhir ibadah puasa adalah manusia-manusia bertakwa (QS Al-Baqarah: 183).
Hal ini mengindikasikan bahwa ketakwaan merupakan kondisi puncak yang bisa dicapai oleh seseorang melalui ibadah puasa. Transformasi dan reformasi seseorang ke dalam bentuk pribadi muttaqin merupakan proses metamorfosis spiritual yang dikehendaki Tuhan. Predikat muttaqin merupakan prestasi transendental dan transformatif yang tak terikat materi dan pernik-pernik kemegahan duniawi yang semu. Karena, para muttaqin mendasarkan kehidupannya hanya kepada keridhaan Tuhan.
Momentum Ramadan ini jadikanlah usaha untuk merefleksi diri, agar kita bisa membersihkan diri dari dosa dan dari segala sesuatu yang buruk yang pernah kita lakukan. Dengan puasa, marilah bertekad untuk mereformasi akhlak secara bersungguh-sungguh.

Ramadan dan Momentum Pengendalian diri
       Puasa pada hakikatnya adalah pengendalian diri dari segala sikap dan perilaku yang tercela. Menurut Muhammad Ali Ash-Shabuni, dalam Rawai’ul Bayan, puasa menjadikan orang dapat menahan diri dari segala keinginan hawa nafsunya seperti korupsi dan manipulasi. Hal senada juga diungkapkan Muhammad Abduh. Menurutnya menghindari siksa atau hukuman Allah diperoleh dengan jalan “menghindarkan diri” dari segala yang dilarangnya serta melaksanakan apa yang diperintahkannya. Jadi intinya, puasa adalah sebuah ibadah yang strategis dan fungsional untuk dapat mengendalikan diri dari segala keinginan hawa nafsu yang terlarang dalam syari’ah.
Pengendalian diri yang diajarkan puasa seharusnya juga dikembangkan secara kreatif dalam kehidupan sosial sebagai bagian usaha menemukan jati diri bangsa. Di tengah proses reformasi yang sedang menemukan bentuk idealnya, manusia harus belajar untuk semakin dapat menahan dan mengendalikan diri sehingga tiap perubahan dan konflik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak berujung pada kekerasan dan kerusuhan, tetapi akan menjadi bagian peningkatan hidupnya ke arah yang lebih baik. Secara spiritual ibadah puasa sebenarnya dapat memberikan sumbangannya kepada diri, keluarga, daerah dan bangsa untuk menemukan jati dirinya sebagai bangsa yang berakhlak, beradab, bermartabat dan religius.

Ramadan dan Spirit Kepemimpinan
    Ramadhan sebenarnya membawa pesan-pesan perubahan, yaitu keharusan meninggalkan sesuatu yang merusak, tercela atau meninggalkan kondisi yang tidak baik menuju yang baik. Dengan mengerahkan potensi zikir dan pikir, orang yang berpuasa berusaha tampil dengan lebih baik. Ramadan ini benar-benar sebagai ujian untuk para pemimpin yang akan bertarung pada Pemilu 2014 mendatang untuk menentukan nasib bangsa ini lima tahun ke depan. Janji perubahan yang ditawarkan para pemimpin dan wakil rakyat harus benar-benar direalisasikan walau secara bertahap.
       Momentum Ramadhan merupakan kesempatan yang baik bagi kita dan para pemimpin untuk melakukan perubahan dan memperbaiki diri, sebab puasa menurut para ulama, sebagaimana disebut di atas bukan dimaksudkan untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kesempatan untuk belajar, yang dalam konteks ini adalah belajar puasa “kekuasaan “. Dengan puasa kekuasaan, orang kaya bisa memperlakukan diri sebagai si miskin, penguasa bisa menjadi rakyat jelata, dan manusia bisa bertindak bagai malaikat yang bebas dari kepentingan duniawi serta kebutuhan seksual.
Ramadhan seharusnya dijadikan momentum perubahan dan pelayanan yang lebih baik oleh pemerintah sekarang. Tapi bukan sekedar momentum, tetapi momentum yang berkelanjutan. Momentum yang terstruktur. Sehingga mampu menjadi efek bola salju, makin lama makin memiliki kekuatan daya dobrak yang besar. Harapan perubahan itulah yang amat sangat dirindukan oleh bangsa Indonesia. Tergantung bagaimana para pemimpinnya menindaklanjuti dengan perilaku, sikap serta kebijakan-kebijakan yang membawa harapan baru terhadap perubahan yang diinginkan. Yang jelas momentum Ramadhan sebagai spirit perubahan telah terbuka. Perubahan itulah yang kini menjadi harapan semua pihak. Orang bijak bertutur, nothing fixed, except the changing, tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri. Momentum Ramadan dapat dijadikan sebagai spirit serta momentum perubahan bagi bangsa dan masyarakat kita.

Spirit Ramadan sebagai Momentum Perubahan
       Spirit ramadhan seharusnya membangkitkan semangat dan spirit kita untuk mengasah peran batin keagamaan kita lebih mendalam. Peran batin dan hati nurani harus dioptimalkan dalam rangka meningkatkan kualitas keagamaan kita. Dalam keadaan apapun suara batin atau hati nurani akan menunjukkan apa adanya bahkan ketika cahayanya begitu redup sehingga tidak terlihat lagi pancarannya, akan tetap sadar dan waspada. Namun seringkali suara hati nurani ini tenggelam dan dikalahkan oleh yang lain karena kadangkala pertimbangan pemikiran dan pengaruh sosial lebih-lebih nafsu mendominasi suara hati nurani yang mengumandangkan kebenaran. Ketidakadilan yang kita amati selama ini sebenarnya kalau boleh dikatakan karena banyak manusia yang tidak pernah mengungkapkan dan mengatakan apa yang ada dalam hati nuraninya.
Dengan spirit Ramadan mudah-mudahan menjadikan hati nurani manusia beragama menjadi  terasah dan tajam serta sensitif terhadap nilai-nilai kebenaran dan prinsip-prinsip hidup terutama dalam mensikapi gejolak hidup sehari-hari di lingkungan sekitarnya. Semoga kekuatan Ramadan tahun ini juga mampu membuka mata batin umat beragama agar mampu mencerna nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan bermakna sehingga menjadikannya manusia yang bijak dan cerdas, mampu membedakan mana yang patut dipilih dan mana yang harus ditinggalkannya. Wassalam.

Selasa, 17 Juni 2014

Hegemoni Popularitas

Oleh : Siti Siamah (Peneliti Data Global Reform Yogyakarta)     


       Di ranah politik, popularitas sangat penting. Karena itu, popularitas kemudian menjelma menjadi hegemoni: Yang terpopuler yang paling berpengaruh dan menjadi rebutan partai. Berarti pula berpotensi untuk meraih tampuk kekuasaan (yang didukung rakyat) dalam sistem demokrasi. Namun, popularitas tidak datang dari langit, melainkan datang dari respons publik. Sedangkan kunci utama untuk meraih popularitas adalah mendapat dukungan media yang diperhatikan publik. Dengan kata lain, andai ada yang merekayasa popularitas pasti akan sia-sia jika tidak mendapat dukungan media dan respons positif dari publik. Ibarat membual, tak ada artinya. 

      Di era modern ini, media menjadi alat terpenting untuk meraih popularitas, bahkan faktanya media juga sering menentukan popularitas figur dan partai. Atau lebih gamblangnya, hegemoni media menentukan hegemoni popularitas. Oleh karena itu, jika media konvensional (cetak dan elektronik) tak bisa digunakan, lantas ada yang mencoba menggunakan media alternatif seperti survei yang memang nyata-nyata melibatkan respons publik, meski sangat terbatas jumlahnya.Namun diakui, hegemoni media konvensional atas media alternatif seperti survei dalam membantu figur dan partai untuk meraih popularitas tak terbantahkan, karena banyak buktinya. Misalnya, satu bukti hegemoni media konvensional dalam mempopulerkan figur bisa dilihat dari popularitas Jokowi sejak menjadi Walikota Surakarta hingga Gubernur DKI Jakarta. Betapa setiap hari media konvensional memberitakannya dan jadilah ia sangat populer. Karena itu, jika suatu ketika muncul media alternatif seperti survei yang mencoba mempopulerkan figur lain untuk mengalahkan popularitas Jokowi serta merta diragukan banyak pihak.

       Dengan kata lain, figur yang didukung media konvensional dalam meraih popularitas tidak bisa dikalahkan figur lain yang menggunakan media alternatif seperti survei dalam meraih popularitas. Karena itu, kalau ada figur yang ingin menjadi yang paling populer, mau tidak mau harus mencari dukungan media konvensional, tidak melulu menggunakan media alternatif seperti survei. Cuma masalahnya, media konvensional cenderung sulit dimanfaatkan untuk meraih popularitas figur yang nyata-nyata tidak banyak mendapat dukungan publik, sehingga sering ada figur yang kemudian terpaksa menggunakan media alternatif seperti survei untuk meraih popularitas.

       Menguasai Media Di Indonesia, akibat hegemoni popularitas sangat penting di ranah politik, akhirnya muncul beberapa figur yang mencoba meraih popularitas dengan cara menguasai media. Seperti Surya Paloh menguasai Media Grup, Hary Tanoesoedibjo menguasai MNC Grup dan Aburizal Bakrie menguasai Viva Grup. Ketiga figur bersebut kini sedang bersaing menjadi yang paling populer dengan menggunakan media masing-masing yang dikuasainya. Selain itu, ketiganya juga didukung media alternatif seperti survei untuk mendongkrak popularitas.
 

     Kini, setiap saat publik dapat menyaksikan persaingan ketiganya dalam merebut popularitas dengan memanfaatkan medianya masing- masing. Namun, di negeri ini ada juga media konvensional lain yang tidak dikuasai ketiganya, yang ternyata tampak selalu kompak mendukung figur lain (Jokowi) untuk meraih popularitas. Akibatnya, Jokowi tetap saja paling populer.Hegemoni popularitas di ranah politik, bisa dianggap sebagai bahaya laten, jika sudah melahirkan rekayasa-rekayasa pragmatis untuk mendongkrak popularitas. Dalam hal ini, figur-figur yang hendak bertarung memperebutkan tampuk kekuasaan bisa saja merekayasa popularitasnya dengan berbagai cara dadakan yang sama sekali tidak bermanfaat bagi bangsa dan negara. Misalnya, bagi yang tidak menguasai media konvensional maupun media alternatif, cara untuk merekayasa popularitas mungkin bisa dengan memproduksi berita-berita hangat dengan menggelar acara seperti konvensi calon presiden. Memang, berita politik terhangat yang terus menerus dirilis media bisa menarik perhatian publik, sehingga figur-figur dan partai yang diberitakan serta merta menjadi semakin populer. Begitulah, rekayasa popularitas memang hak semua orang, asalkan tidak dengan menyerang popularitas pihak lain. Meski demikian, ternyata ada juga yang mencoba melakukan menyerangan untuk merusak popularitas seorang figur. Akibatnya, figur yang hendak dirusak popularitasnya justru makin populer, karena ba nyak media dan publik yang bersimpati dan membelanya.

Minggu, 08 Juni 2014

Cahaya Kehidupan

Oleh : Ibnu Adam, ST., MM dan Taufiq Ritonga

Bumi tanpa cahaya matahari akan hampa dan kehidupan akan binasa. Begitulah ibarat hati manusia, tanpa cahaya ilmu hati akan sakit dan mati. Nah seseorang yang hatinya mati, dia tidak tahu tentang Rabb-nya, tidak menyembah-Nya, tidak mencintai apa yang seharusnya dicintai-Nya dan tidak mencari Ridlo-Nya. Tetapi dia hanya menuruti ambisi syahwat walaupun di sana akan mendatangkan kemarahan Rabb-Nya. Dia tidak peduli apakah Rabb-Nya ridlo atau murka yang penting dia telah melampiaskan syahwat dan keinginannya.

Ilmu adalah kehidupan dan cahaya sedangkan kebodohan adalah kematian dan kegelapan. Timbulnya kesengsaraan adalah sebab kegelapan dan kematian. Adapun sebab kebahagiaan adalah karena adanya cahaya dan kehidupan. Karena cahaya dapat menampakkan hakikat segala sesuatu.oleh karena itu carilah kebahagian hidup dan terangilah dengan ilmu-ilmu agama selalulah sirami hati dengan cahaya ilmu yang bermanfaat, tingkatkan selalu dengan menghadiri majelis ilmi, mendatangi ulama, mengkaji berbagai buku-buku yang berkaitan dengan agama dan perkembanganya. ketahuilah sebenarnya ilmu juga bisa melenyapkan berbagai macam penyakit hati, melembutkan kekerasan watak, dan mengikis dari sifat sombong dan akhirnya jadilah hati tersebut bersih, sehat dan selamat.
Seorang yang berilmu jika dihadapkan dengan permasalahan ia akan dengan sangat bijak sana dalam menyikapinya, tidak sembarangan dalam bertindak, dan memutuskan dengan sangat matang, Jadi orang yang memiliki banyak ilmu, tidak disangsikan lagi akan dapat menghasilkan tafakur yang berbobot, dan allah akan melebihkan derajatnya dibanding yang lain, sebagai mana firman allah:

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs. Mujadilah, 58:11)

Ilmu adalah nikmat Allah yang paling besar, dengannya kita bisa mengenal keesaan tuhan yang satu-satunya pencipta untuk semua yang ada didunia, dengan ilmu pula kita menyembahnya, mengagungkanya. Walaupun memang harta, pangkat dan jabatan adalah nikmat yang selalu diburu oleh manusia akan tetapi semua itu tidak memperkenalkan kita kepada tuhan, malah kesemuaan itu bisa menyesatkan kita kejalan yang nista dan jauh dari pada cahaya ilahi.

Prof. Dr. Hamka berkata :
"Ilmu itu tiang untuk kesempurnaan akal. Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambah datanglah bahagia. Bertambah sempit akal, bertambah sempit pula hidup, bertambah datanglah celaka.".

Islam banyak menjelaskan bahwa ilmu memiliki posisi diatas segala-galanya, didalam sebuah riwayat Rasulullah SAW menerangkan sebagai berikut:

Anshar bertanya kepada Rasulullah saw.,"Wahai Rasulullah, jika ada orang yang meninggal dunia bertepatan dengan acara majlis ulama, manakah yang lebih berhak mendapatkan perhatian?". Jika telah ada orang yang mengantar dan menguburkan jenazah itu, maka menghadiri majlis ulama itu lebih utama daripada melayat seribu jenazah. Bahkan ia lebih utama daripada menjenguk seribu orang sakit, atau shalat seribu hari seribu malam, atau sedekah seribu dirham pada fakir miskin, ataupun seribu kali berhaji; bahkan lebih utama daripada seribu kali berperang di jalan Allah dengan jiwa dan ragamu!. Tahukah engkau bahwa Allah dipatuhi dengan ilmu, dan di sembah dengan ilmu pula?. Tahukah engkau bahwa kebaikan dunia dan akhirat adalah dengan ilmu, sedangkan keburukan dunia dan akhirat adalah dengan kebodohan?.

Tuntutlah ilmu karena Allah ta’ala, perdalamlah selalu karena ilmu tidak akan merugikan, ilmu membawa pada kemuliaan pemiliknya didunia, meninggikan martabatnya dimata masyarakat, dan akan selalu dihormati dimanapun ia langkahkan kakinya. Jika si pemilik ilmu pergi berdakwah menyampaikan ilmunya ditengah-tengah manusia, maka disitu ilmunya akan mengangkat martabatnya diantara banyak manusia, karena mereka akan tertarik kepada kebenaran ucapanya yang selalu mengikut sertakan dalil-dalil nyata, lemah lembut dan penuh kesopanan dalam menyampaikan kebenaran hingga selalu menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia.

Maka seorang penuntut ilmu yang berjalan di atas hujjah, ia mengetahui dalil-dalil syar'iyah, mengetahui hukum-hukum Islam dan mengamalkannya, tetap tegak kepalanya di mana saja dan tetap terhormat di mana saja, lebih-lebih di tengah-tengah jama'ahnya dan penduduk negerinya bila mereka mengetahui keilmuan dan wejangannya serta kejujuran dan kehati-hatiannya. Sebab, itulah faktor-faktor yang menyebabkannya terhormat, bahkan menjadi dokter yang bijaksana yang menyeru ke jalan Allah dengan hujjah dan kelembutan.

Orang yang demikian akan tegak kepalanya dan dihormati di mana saja, di desa atau kabilah atau lainnya jika ia berperilaku dengan ilmu, baik perkataan maupun perbuatan, jauh dari perilaku fasik dan karakter orang-orang jahat.

Senin, 19 Mei 2014

Memilih Presiden Yang Peduli Pendidikan


Oleh  :  Ibnu Adam, ST., MM

Berawal ketika Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy menanggapi berkembangnya dunia teknologi Rusia yang dapat meluncurkan pesawat Sputnik keluar angkasa diakhir tahun 1957, Presiden AS terkejut dan merasa tertinggal dari rivalnya tersebut. Sehingga masyarakat dan politisi AS panik, serta-merta menuding pendidikan sebagai biang keladi ketertinggalan bangsa AS dari Rusia. Kennedy segara menanggapi serius "rendahnya mutu" pendidikan AS saat itu dan mencanangkan program pressing mutu pendidikan. Akhirnya, tahun 1969, Neil Amstrong berhasil mendaratkan Apollo di Bulan. 
Inilah yang disebut Efek Sputnik Amerika, keterkejutan atas ketertinggalan yang membawa kepada kesadaran masyarakat Amerika perlunya sebuah perubahan. Bangsa kita sebenarnya sudah sangat sering dikejutkan berbagai lembaga internasional yang memberi penilaian yang tidak enak didengar, termasuk ketika badan internasional yang bernaung di bawah organisasi PBB, United Nations Development Programme (UNDP) mengeluarkan laporan negara-negara menurut peringkat Human Development Index (HDI) 2008. Negara kita ada di peringkat 111 dari 175 negara. Mungkin, karena persoalan mutu manusia kita yang rendah sudah sering kita dengar, makanya pemerintah biasa - biasa saja dan sama sekali tidak menanggapi serius persoalan ini. 
Meski tidak seluruh data yang mendukung adalah data yang lengkap dan aktual, pada dasarnya HDI adalah satuan yang dikembangkan UNDP guna mengukur kesuksesan pembangunan suatu negara. HDI adalah angka yang diolah berdasarkan tiga dimensi; yaitu panjang usia (longevity), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup (standard of living) suatu bangsa. Secara teknis ketiga dimensi ini dijabarkan menjadi beberapa indikator ; yaitu kesehatan (dan kependudukan), pendidikan, serta ekonomi. Selama ini, hanya pendapatan saja yang sering menjadi tolok ukur kesejahteraan atau kemajuan pembangunan suatu bangsa. Tetapi HDI menggabungkan ukuran-ukuran harapan hidup, pendidikan, literasi dan pendapatan, untuk melihat pembangunan suatu negara secara lebih luas. 
Berdasarkan Laporan UNDP tersebut, Human Development Indeks Indonesia memang terus melorot semenjak 1975. Data ini bahkan sudah dikonfirmasi dengan penghitungan Biro Pusat Statistik (BPS), yang menunjukkan HDI Indonesia memang mengalami kemunduran terutama sejak 1996. Kecenderungan penurunan HDI ini utamanya untuk komponen angka kematian bayi dan angka bebas buta huruf di antara penduduk dewasa. Itu berarti, kualitas manusia kita tidak berkembang-berkembang dari tahun 1974, bahkan terus melorot? Program pengembangan SDM model apa yang kita lakukan saat ini? Sumber daya manusia kita selama kurang lebih 30 tahun tanpa peningkatan, menunjukkan betapa tidak adanya pemikiran, keseriusan dan kemauan pemerintah bangsa ini terhadap sebuah perubahan. 
Sampai hari ini, bangsa Indonesia bisa dikata memang masih terpuruk baik secara politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Sebagian besar masyarakat dan politikus kita menyatakan bahwa itu semua disebabkan terjadinya badai krisis di Asia yang menghantam sistem perekonomian Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 yang lalu. Berawal dari sinilah selanjutnya aneka ragam krisis muncul di permukaan. 
Analisis seperti itu mungkin ada benarnya, akan tetapi mendudukkan krisis ekonomi sebagai satu-satunya determinan tentulah tidak tepat. Mengapa Korea Selatan, Thailand dan Malaysia sudah bisa kembali berpacu, sementara kita belum bisa sempurna berdiri tegak? Kita semestinya sepakat bahwa sebenarnya ada faktor yang lebih fundamental sebagai penyebab keterpurukan kita ; yaitu ketidakberhasilan pendidikan nasional kita. Sesungguhnya periode ini pendidikan nasional kita sudah mengalami perubahan dibandingkan pada pertengahan tahun 1990-an bahkan hingga 2003 silam. Kekurangtangguhan bangsa Indonesia pada saat itu merupakan akibat dari perjalanan buruk pendidikan 15, 20 sampai 40 tahun yang silam. Selama ini kita kurang bersungguh-sungguh mengurus pendidikan dan hari ini kita tengah menuai dampaknya. Karena pendidikan kita tidak menghasilkan kader-kader bangsa yang berkemauan tulus dan berkemampuan profesional maka kita tidak sanggup menahan krisis dan ketikaaneka krisis sudah berkecamuk yang menghantar kita dalam keterpurukan maka kita pun sulit untuk melakukan recovery. 
Kita dapat belajar dari Australia, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, dan sebagainya; ketika badai krisis menyerang negara-negara Asia mereka tetap saja survive. Kenapa? Karena mereka memiliki generasi yang tangguh untuk melawan krisis. Dan, ketangguhan ini merupakan dampak positif dari pelaksanaan pendidikan nasionalnya. 
Dalam soal anggaran misalnya, sejak dulu pemerintah kita tidak mau mengalokasi anggaran pendidikan dalam jumlah yang memadai. Dari tahun ke tahun rasanya belum pernah satu kali pun besarnya anggaran pendidikan kita mencapai 20 persen dari total anggaran negara. RAPBN 2007 hanya menganggarkan dana pendidikan yang tidak mencapai target, jauh dari janji-janji 20 persen sebelumnya. Akibatnya pendidikan di Indonesia kurang diperhatikan terutama pendidikan bagi masyarakat bawah, bukan hanya diperguruan tinggi bahkan biaya sekolahpun masih mahal bagi masyarakat. Hal inipun menjadi beban dalam meningkatkan pendidikan walaupun dengan menerapkannya biaya pendidikan gratis dan memerlukan pemikiran optimis dalam mencerdaskan bangsa.
Kita tak mau menengok realitas ke kanan–kiri  misalnya ke Malaysia, Singapura, Australia, dan Selandia Baru yang mengalokasi anggaran pendidikan setidak-tidaknya 15 persen dari total pengeluaran setiap tahun. Anggaran pendidikan di Malaysia sangat sering mencapai angka 20 persen. Dua puluh tahun lalu Malaysia masih menjadi "murid" kita, banyak pemuda Malaysia dikirim ke Indonesia untuk menimba ilmu di berbagai perguruan tinggi kita. Di sisi lain pemerintah Malaysia juga mendatangkan banyak guru, dosen, dan peneliti kita untuk mengembangkan pendidikan nasionalnya. Para pejabat pemerintah Malaysia memiliki komitmen dan sense of education yang memadai dengan mengalokasi anggaran pendidikan secara signifikan. Alhasil, Malaysia maju berkembang dengan dengan sumber daya manusia yang tangguh 80-an.
Sekalipun kita meyakini bahwa laporan UNDP itu tidak 100 persen valid, apa salahnya kita merasa terkejut, terpukul dan menarik pelajaran dari publikasi itu? Lebih rendahnya kualitas manusia Indonesia dibandingkan dengan negara-negara tetangga dan sebagian negara terbelakang harus kita akui untuk dijadikan alat pemicu dan pemacu guna perbaikan diri. Jika tidak, implikasi ketidaksungguhan kita mengelola pendidikan hari ini akan terasa akibatnya 15 -30 tahun mendatang. Saat itu, era perdagangan bebas dunia sudah berputar dan bukan mustahil, manusia-manusia kita hanya akan menjadi tenaga pekerja dinegara sendiri. 
Dalam waktu dekat, bangsa Indonesia akan memilih presiden sekaligus pemerintahan baru. Presiden baru nantinya harus segera terkejut dengan kondisi sumber daya manusia, seperti bangsa AS yang pernah didera efek Sputnik. Pasca efek Sputnik, pemerintah AS menyediakan dana tak terbatas untuk pendidikan, memberdayakan daerah dan kota guna memajukan pendidikan, dan membantu unit-unit masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan bermutu.
Dibanding kita kasak - kusuk berdebat mengenai presiden yang dilihat dari militer atau sipil, sosok figur atau dukungan partai, nasionalis atau agamis - lebih baik kita menyatukan pendapat bahwa presiden mendatang harus sosok yang bisa memajukan pendidikan bangsa. Kita harus bisa sepakat bahwa kita wajib memilih presiden yang mau peduli dengan pendidikan demi mencerdaskan bangsa dan kemakmuran rakyat. Seharusnya itulah kriteria nomor satu dan yang paling wajib kita dahulukan guna mensejajarkan bangsa di era globalisasi. Wassalam.

Rabu, 23 April 2014

Politikus dan Pemilih

Oleh : Prof Dr Sudjito SH MSi
(Guru Besar Ilmu Hukum, dan Kepala Pusat Studi Pancasila UGM)

PEMILIHAN umum legislatif (pileg) telah berlalu. Secara umum, pileg berlangsung aman dan damai. Kita bersyukur atas rahmat Allah SWT itu. Persoalannya, apakah calon-calon legislator (caleg) itu cerdas dan amanah dalam jabatannya. Persoalan ini menghantui bangsa dalam menatap masa depan, dan oleh karenanya layak dianalisis.

Bagi orang beriman dan ber-Pancasila, tentu tidak asing dengan permohonan seorang Nabi agar umatNya dijauhkan dari kepemimpinan orang-orang tidak amanah. Dipastikan doa Nabi itu makbul. Akan tetapi, sungguh sayang, umat yang didoakan justru menolak terkabulkannya doa itu. Itulah politikus dan pemilih yang terlibat 'money politics'. Tragis, realitas ini terhampar di seluruh penjuru negeri.

Seorang sopir, saat menjelang pileg, menjemput ke rumah untuk ujian tertutup calon doktor pada sebuah universitas swasta. ”Maaf Prof, terlambat, karena terjebak kampanye”, katanya. ”Njih. Tidak apa. Utamakan keselamatan. Jangan ngebut”, jawab saya. Dalam perjalanan, saya coba menyelami alam pikiran dan pandangannya tentang pileg melalui percakapan. ”Besok mau coblos yang mana Pak?”. Apa jawabnya, ”Terus terang saya akan datang tetapi tidak coblos”. Lho apa alasannya?
Dijawab, pertama, saya datang untuk menghormati undangan. Ini etika hidup bermasyarakat. Kedua, saya tidak coblos karena tidak mau ternodai dosa politik. Memilih penguasa bodoh itu dosa dan berbahaya”, tegasnya. ”Itulah sebabnya, saya akan netral dan tidak mau golput alias golongan pungut uang tunai”.

Sungguh beruntung menjadi seorang sopir bijak, cerdas dan istiqomah. Mampu membentengi diri dari dosa politik. Harmoni antara batin dan lahirnya, seimbang antara jiwa dan raganya, terpadu antara kepribadian dan kemasyarakatannya. Pandangan dan sikap politiknya, bak air yang mampu memadamkan api, mampu merembesi tanah demi kesuburan pepohonan, mampu memberi kesejukan ditengah kegersangan. Betapapun dalam strata sosial, ekonomi maupun politik, eksistensinya berada pada lapisan bawah tetapi esensinya senilai mutiara, sepadan guru besar ilmu politik. Kalaupun adanya di dasar laut atau tersembunyi, sunyi dan sepi di dalam kampus, pastilah tetap berkilau, dicari orang lantaran bermakna tinggi dalam kehidupan. 

Pada dimensi praksis, demokrasi ‘salah-kaprah’, telah menggerus etika-moral dan estetika, serta-merta menggantikannya dengan nafsu politik. Kalaupun masih tersisa amal saleh, sering muncul sebagai bungkus aneka ragam kemaksiatan. Benar, bahwa setiap hari politikus bertambah tabungan harta-bendanya, tetapi bertambah pula dosa-dosanya. Ironis, mereka tiada pernah merasa salah. Mengapa demikian? Mereka mengira, udara segar yang dihirupnya, lezat makanan yang dinikmatinya, azab dan bencana yang masih jauh darinya, dikira sebagai pertanda diridhai perilaku politiknya.

Padahal, apa yang dirasakannya sebagai kenikmatan hidup, merupakan cobaan atau ujian, apakah mereka cerdas dalam menangkap tanda-tanda zaman. Tanpa kepekaan kalbu, tanpa menimbang esensi strata dan amal perbuatan, mereka mengira bahwa gengsi sebagai majikan, glamour karena jabatan, kokoh karena kekuasaan, dipandangnya sebagai ukuran martabat dan kemuliaan. Perkiraan itu sungguh keliru bahkan sesat. 

Panggung politik identik dengan panggung sandiwara. Pada saatnya politikus naik panggung, bersenda-gurau, bermain-main, dan kemudian turun panggung dalam waktu sangat singkat. Peran dan perilaku hanya kepura-puraan, bukan kehidupan sebenarnya. Sungguh politikus dan pemilih tidak cerdas, kalau panggung politik dijadikan sebagai esensi kehidupan, sehingga dijalani dengan serius, total, hidup dan mati demi partai politik. Kerugian besar bagi mereka kalau tidak sadar dan tidak mampu mendayagunakan energi politiknya untuk menebar benih kemaslahatan sosial. Yakinlah, siapapun menebar angin akan menuai badai, siapapun menebar amal akan mendulang pahala, rela berjuang bagi bangsa akan melahirkan negara yang kokoh. 

Tetapi, apa mau dikata, barangkali sudah datang suatu masa dimana rakyat ‘salah kaprah’ berpikir.  Demi uang dan demi demokrasi ‘salah-kaprah’, hati-nurani dan akal sehat disirnakan. Sikap dan perilaku mayoritas dijadikan sebagai tradisi dan ukuran kebenaran, tanpa kendali dan tanpa koreksi. Padahal siapapun menjadi pengikut penguasa bodoh, taruhannya terlempar ke jurang kesengsaraan.

Kamis, 03 April 2014

Membentuk Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi

Oleh : Ibnu Adam, ST., MM 
Kaprodi Teknik Listrik, Akademi Komunitas Negeri Sumbawa Barat


Perguruan tinggi mengemban tanggungjawab dan kewajiban yang besar, khususnya dalam melahirkan sumberdaya intelektual, yang diharapkan nantinya bisa memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa ini. Perguruan tinggi juga harus mampu mengkonstruktifitaskan institusinya secara moral dan manajerial agar dapat survive dan mampu menyediakan semua proses intelektual produk yang dihasilkannya kepada masyarakat secara sistematis, berkelanjutan dan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat tentang harapan dan cita-citanya mendapatkan manfaat belajar di perguruan tinggi. Sehingga dari harapan inilah menjadikan peran perguruan tinggi sebagai menara gading dan corong intelektual ditengah-tengah masyarakat.
Semenjak pemerintah memberlakukan pendidikan karakter secara nasional di semua jenjang pendidikan (Kompas, 13/7/2011), pendidikan karakter menjadi isu hangat dibidang pendidikan, tidak terkecuali di Perguruan Tinggi. Beberapa forum ilmiah, seminar dan diskusi melibatkan pakar berbagai disiplin ilmu, khususnya pendidikan. Pada kegiatan itu membahas tentang karakter secara mendalam hingga menjadi fokus topik dan tidak melebar kemana-mana.
Definisi karakter bila diartikan menurut Ki Hajar Dewantara, dipandang karakter sebagai watak atau budi pekerti, dengan kata lain bersatunya gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan yang kemudian menimbulkan tenaga. Dengan adanya budi pekerti manusia akan menjadi pribadi yang merdeka sekaligus berkepribadian dan dapat mengendalikan diri sendiri atau mandiri. Pendidikan yang baik menurut Ki Hajar Dewantara yaitu mampu mengalahkan dasar-dasar jiwa manusia yang jahat, menutupi, bahkan mengurangi sifat-sifat yang negatif. Pendidikan dikatakan optimal jika sifat luhur lebih menonjol dalam diri daripada sifat-sifat negatif. Manusia berkarakter inilah yang menurut Ki Hajar Dewantara sebagai sosok beradab, sosok menjadi ancangan sejati pendidikan. Sehingga keberhasilan pendidikan sejati adalah menghasilkan manusia beradab, bukan yang cerdas secara kognitif dan psikomotorik tetapi miskin karakter dan budi pekerti luhur.
Pendidikan karakter menjadi tuntutan para pengajar khususnya bagi dosen sudah selayaknya dominan dimiliki dan tampak menonjol dari pribadi seorang dosen. Pendidikan karakterpula yang menjadikan budi pekerti terhadap apa dan siapa yang akan dibimbing untuk menghasilkan pribadi berbudi pekerti plus, yaitu pendidikan yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Ketika ketiga aspek diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, maka peserta didik menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi  ini menjadi bekal guna mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademik.
Pendidikan karakter merupakan usaha yang disengaja untuk mengembangkan karakter yang baik berdasarkan nilai-nilai inti yang baik untuk individu dan baik untuk masyarakat. Salah satu lembaga yang dapat berperan dlam pendidikan karakter adalah peruruan tinggi. Dengan demikian, dalam lingkungan perguruan tinggi  tersebut tersedia suatu lingkungan moral (moral environtment) yang menekankan nilai-nilai yang baik dan menjaganya dalam kesadaran setiap orang. Sebuah lingkungan yang dapat mengubah nilai menjadi sebuah kebaikan dan mengembangkan kesadaran intelektual menjadi kebiasaan personal dalam pikiran, perasaan dan tindakan. Selain memiliki karakter ideal yang diuraikan sebelumnya karakter juga menjadi tantangan yang begitu berat dan komplek bagi pendidik, juga hasil dari karakter yang diberikan juga memiliki soft skill atau kecakapan hidup. Dengan kata lain soft skill sebagai bagian karakter mahasiswa dan memiliki peran yang amat penting. Bahkan umumnya praktik pendidikan yang dilakukan cenderung berorientasi pada pendidikan berbasis hard skill (keterampilan teknis) yang lebih bersifat mengembangkan Intelligence Quotient (IQ), namun kurang mengembangkan kemampuan soft skill yang tertuang dalam Emosional Quotient (EQ), dan Spiritual Qoutient (SQ). Keritikan dalam pendidikan yang berbasis hard skill, saat ini sudah mulai bergeser. Saat ini mulai ditekankan pembelajaran yang berbasis soft skill (interaksi sosial), karena dalam pembentukan karakter generasi bangsa harus mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun, dan berinteraksi dengan masyarakat. Pendidikan soft skill bertumpu pada pembinaan mentalitas agar anak bangsa dapat menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan. Singkatnya saat ini dalam dunia pendidikan telah timbul kesadaran bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill) saja, tetapi juga kerampilan mengelola diri dan orang lain.

Peranan Dosen dalam Pendidikan Karakter
            Seorang dosen mempunyai peranan yang penting dalam khasanah ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Peranan utama dosen antara lain, mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, yang dibingkai dalam berbagai aktivitas Tridharma Perguruan Tinggi yang mencakup kegiatan : a). Melaksanakan pendidikan dan pengajaran/pembelajaran; b). Melaksanakan penelitian; dan c). Melaksanakan pengabdian masyarakat.
Peranan dosen dalam mentransformasikan dinyatakan dalam mentranformasikan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana saat ini menurut analisa refleksi para ahli, fungsi ilmu pengetahuan dan teknologi bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidup. Tetapi ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menciptakan tujuan hidup sendiri.
Melalui kegiatan pembelajaran dosen berperan mencerahkan kepada mahasiswa mengenai berbagai hal yang terjadi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembelajaran yang dilakukan oleh seorang dosen hendaknya tidak hanya sekedar mengenalkan kepada para mahasiswa fakta, konsep, prinsip, dan prosedur saja, tetapi mahasiswa hendaknya diarahkan untuk bisa sampai pada tahapan bagaimana mampu menganalisa, mensintesis, mengevaluasi, dan merefleksikan berbagai persoalan yang relevan. Tahapan inilah mahasiswa dapat berkarya dengan memberikan kontribusi terhadap dunia pendidikan, seperti melakukan pembuatan karya ilmiah sederhana. Perubahan seperti itu memberikan dampak besar bagi mahasiswa dan dunia pendidikan bahkan menjadikan suatu pengalaman akademis mahasiswa yang dilakukan ketika dimasa pembelajaran di kampus.
            Peranan sebagai pengembang (developer) merupakan peranan yang dilakukan dalam Tridharma Perguruan Tinggi yaitu melalui kegiatan penelitian. Kegiatan penelitian dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat. Melalui penelitian dosen dapat mengembangkan peranan diri menjadi manusia yang berkualitas. Antara lain indikator yang menjadikan dosen sebagai peneliti yang baik, yaitu : a). Penelitian dapat dipublikasikan secara luas misalnya melalui jurnal, buku, media online ataupun media cetak; b). Dosen mampu berberkompetisi dalam membuat proposal penelitian; c). Dosen mampu membuat penelitian berlandaskan etika penelitian; d). Dosen mampu membuat terobosan dan memunculkan gagasan baru melalui kajian terdahulu; dan e). Dosen mampu menumbuhkan budaya penelitian dilingkungan perguruan tinggi.
            Menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dilakukan melalui fungsi pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian dengan maksud mengangkat derajat hidup dan berkhidmat kepada masyarakat. Pengabdian dapat berupa pelayanan terhadap masyarakat khususnya masyarakat sekolah/lembaga pendidikan, dosen dengan ilmunya memberikan karya ilmiah sebagai penguatan informasi terhadap dunia pendidikan. Pengabdian juga dapat dilakukan dengan bentuk program kerja bersama instansi bahkan pengabdian masyarakat melalui kerjasama dengan yayasan social dalam bentuk pemberdayaan/peguatan masyarakat.
            Bersama tugas dan tanggung jawab dosen dalam partisipasi membangun dunia pendidikan, disinilah karakter unggul terbentuk melalui penerapan langsung di perguruan tinggi bahkan menjadikan pembentukan karakter bagi mahasiswa melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi modal besar bangsa dalam mencerdaskan kehidupan. Selaras dengan tujuan yang mendasar dalam pandangan cita-cita bangsa Indonesia. Wassalam.


Senin, 03 Februari 2014

Parpol dan Dilema Biaya Politik

OLEH : BAMBANG ARIANTO.
(Peneliti Politik Bulaksumur Empat Research and Consulting)

Hajat elektoral 9 April 2014 diyakini menjadi ajang hidup mati partai politik (Parpol) dalam mengejar imperium kekuasaan. Membengkaknya biaya politik 2014 dapat dijadikan bukti ketatnya persaingan politik dalam elektoral 2014. Tidak salah bila sejumlah pihak menilai akan terjadi peningkatan 100 persen dana biaya politik pada tahun Pemilu 2014 ketimbang 2004 dan 2009 lalu.
Kisarannya sangat fantastis antara Rp 1 miliar - 2 miliar percaleg DPR RI untuk setiap daerah pemilihan. Segala cara pun dilakukan guna memenuhi hasrat politik 2014. Akibatnya, dapat dilihat dari banyaknya elite parpol yang terjerembab dalam korupsi politik. Banyaknya para pemburu rente ekonomi yang bernaung dalam Parpol menjadikan partai telah kehilangan daya pikat elektoral di hadapan publik. Sebut saja, sejumlah elite Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera dan terakhir Partai Golkar yang harus berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Modusnya sama seputar persoalan korupsi-suap.

Sayap Bisnis
Banyak ide agar partai politik lebih mandiri ketimbang menggantungkan sumber-sumber dana di luar. Selama ini pendanaan partai politik telah jelas diatur dalam undang-undang, namun masih saja belum mampu mengedepankan aspek transparansi yang dapat diakses publik. Usulan sayap bisnis pun sebenarnya ditujukan untuk membangun jiwa kewirausahaan di tubuh parpol. Di sini diasumsikan, Parpol bukan semata-mata lembaga politik, namun berevolusi menjadi sebuah lembaga bisnis. Harapannya, dengan mengelola lembaga bisnis sendiri, pengurus dan kader partai dapat memiliki kesibukan baru yakni berbisnis-berpolitik. Bisa disimpulkan, pengabdian seseorang dalam berpartai dijamin insentif finansial yang jelas, mengingat parpol adalah lembaga politik sekaligus lembaga bisnis.
Hal ini didasari definisi Parpol yang merupakan lembaga politik bukan lembaga bisnis. Lembaga politik seharusnya yang diutamakan adalah pengabdian atau voluntarisme. Seseorang yang aktif berpartai, jelas berpredikat seorang politisi bukan seorang entrepreneurship. Politik dan bisnis itu jelas berbeda, walaupun dalam praktiknya seperti dua sisi mata uang. Pada praktiknya politik dan bisnis saling bersimbiosis. Politik tidak akan berjalan lancar tanpa dana dan sebaliknya bisnis kerap terhalang aturan yang dibuat dari jejaring politik.
Apalagi, pendanaan partai dalam praktiknya tidak dapat menggantungkan semata-mata iuran anggota. Pelbagai sengkarut soal korupsi suap telah membuktikan tidak ada satu pun parpol di Indonesia yang dapat hidup sematamata dari iuran anggota, termasuk PKS yang kerap mengklaim hidup mandiri dari iuran kader.
Untuk keperluan Pemilu Legislatif 2014, dipastikan banyak partai yang bergantung pada perolehan sumbangan. Sumbangan pihak lain merupakan lokomotif utama pundi-pundi pendanaan partai. Walaupun pada praktiknya sumber-sumber pendanaan itu juga diindikasikan berasal dari berbagai badan usaha milik negara, yang dijadikan sapi perah. Usulan sayap bisnis bagi Parpol dapat dipahami, selama aturan itu benar-benar ditegakkan dengan prinsip transparansi di hadapan publik untuk menghindari ekses konflik kepentingan politik-bisnis yang fatal.

Dilema Biaya Politik
Bila hal itu terjadi, bisa jadi bukan menimbulkan dilema biaya politik baru. Kemandirian akan menjauh dan konflik politik-bisnis yang saling sengkarut akan muncul, baik internalantar parpol. Motivasi orang berpartai akan bergeser ke motivasi bisnis. Parpol, pada akhirnya tidak lagi dipandang sebagai tempat pengabdian, namun telah bergeser menjadi lahan mencari pekerjaan. Parpol punya logika dan habitat sebagai lembaga politik, sehingga kultur dan pola pikir pelakunya harus paralel. Kalau kultur dan logika parpol sebagai lembaga politik bergeser pada kultur dan logika bisnis, maka akan muncul dilema baru.
Akhirnya, ke depan makin banyak Parpol yang didirikan dengan logika bisnis. Konflik politik pun dapat dengan mudah terjadi, apabila nantinya elite populis dan oligarkis mengasumsikan diri sebagai komisaris, divergensi politik akan mudah terjadi yang muncul dari konflik politik-bisnis dalam tubuh Parpol. Jadi, walaupun tidak berbisnis, Parpol harus dapat hidup mandiri dari perolehan pelbagai sumber pendanaan yang halal. Baik itu iuran anggota, sumbangan pihak ketiga yang tidak mengikat, bahkan dari sumbangan negara.