Oleh : Ibnu Adam, ST., MM
Berawal ketika Presiden Amerika
Serikat, John F. Kennedy menanggapi berkembangnya dunia teknologi Rusia yang
dapat meluncurkan pesawat Sputnik keluar angkasa diakhir tahun 1957, Presiden
AS terkejut dan merasa tertinggal dari rivalnya tersebut. Sehingga masyarakat
dan politisi AS panik, serta-merta menuding pendidikan sebagai biang keladi
ketertinggalan bangsa AS dari Rusia. Kennedy segara menanggapi serius
"rendahnya mutu" pendidikan AS saat itu dan mencanangkan program pressing
mutu pendidikan. Akhirnya, tahun 1969, Neil Amstrong berhasil mendaratkan
Apollo di Bulan.
Inilah yang disebut Efek Sputnik
Amerika, keterkejutan atas ketertinggalan yang membawa kepada kesadaran
masyarakat Amerika perlunya sebuah perubahan. Bangsa kita sebenarnya sudah
sangat sering dikejutkan berbagai lembaga internasional yang memberi penilaian
yang tidak enak didengar, termasuk ketika badan internasional yang bernaung di
bawah organisasi PBB, United Nations Development Programme (UNDP) mengeluarkan
laporan negara-negara menurut peringkat Human Development Index (HDI) 2008.
Negara kita ada di peringkat 111 dari 175 negara. Mungkin, karena persoalan
mutu manusia kita yang rendah sudah sering kita dengar, makanya pemerintah
biasa - biasa saja dan sama sekali tidak menanggapi serius persoalan ini.
Meski tidak seluruh data yang mendukung adalah data
yang lengkap dan aktual, pada dasarnya HDI adalah satuan yang dikembangkan UNDP
guna mengukur kesuksesan pembangunan suatu negara. HDI adalah angka yang diolah
berdasarkan tiga dimensi; yaitu panjang usia (longevity), pengetahuan (knowledge),
dan standar hidup (standard of living)
suatu bangsa. Secara teknis ketiga dimensi ini dijabarkan menjadi beberapa
indikator ; yaitu kesehatan (dan kependudukan), pendidikan, serta ekonomi.
Selama ini, hanya pendapatan saja yang sering menjadi tolok ukur kesejahteraan
atau kemajuan pembangunan suatu bangsa. Tetapi HDI menggabungkan ukuran-ukuran
harapan hidup, pendidikan, literasi dan pendapatan, untuk melihat pembangunan
suatu negara secara lebih luas.
Berdasarkan Laporan UNDP tersebut, Human
Development Indeks Indonesia memang terus melorot semenjak 1975. Data ini
bahkan sudah dikonfirmasi dengan penghitungan Biro Pusat Statistik (BPS), yang
menunjukkan HDI Indonesia memang mengalami kemunduran terutama sejak 1996.
Kecenderungan penurunan HDI ini utamanya untuk komponen angka kematian bayi dan
angka bebas buta huruf di antara penduduk dewasa. Itu berarti, kualitas manusia
kita tidak berkembang-berkembang dari tahun 1974, bahkan terus melorot? Program
pengembangan SDM model apa yang kita lakukan saat ini? Sumber daya manusia kita
selama kurang lebih 30 tahun tanpa peningkatan, menunjukkan betapa tidak adanya
pemikiran, keseriusan dan kemauan pemerintah bangsa ini terhadap sebuah perubahan.
Sampai hari ini, bangsa Indonesia bisa
dikata memang masih terpuruk baik secara politik, ekonomi, maupun sosial
budaya. Sebagian besar masyarakat dan politikus kita menyatakan bahwa itu semua
disebabkan terjadinya badai krisis di Asia yang menghantam sistem perekonomian
Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 yang lalu. Berawal dari sinilah
selanjutnya aneka ragam krisis muncul di permukaan.
Analisis seperti itu mungkin ada benarnya, akan tetapi mendudukkan krisis ekonomi sebagai satu-satunya determinan tentulah tidak tepat. Mengapa Korea Selatan, Thailand dan Malaysia sudah bisa kembali berpacu, sementara kita belum bisa sempurna berdiri tegak? Kita semestinya sepakat bahwa sebenarnya ada faktor yang lebih fundamental sebagai penyebab keterpurukan kita ; yaitu ketidakberhasilan pendidikan nasional kita. Sesungguhnya periode ini pendidikan nasional kita sudah mengalami perubahan dibandingkan pada pertengahan tahun 1990-an bahkan hingga 2003 silam. Kekurangtangguhan bangsa Indonesia pada saat itu merupakan akibat dari perjalanan buruk pendidikan 15, 20 sampai 40 tahun yang silam. Selama ini kita kurang bersungguh-sungguh mengurus pendidikan dan hari ini kita tengah menuai dampaknya. Karena pendidikan kita tidak menghasilkan kader-kader bangsa yang berkemauan tulus dan berkemampuan profesional maka kita tidak sanggup menahan krisis dan ketikaaneka krisis sudah berkecamuk yang menghantar kita dalam keterpurukan maka kita pun sulit untuk melakukan recovery.
Kita dapat belajar dari Australia, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, dan sebagainya; ketika badai krisis menyerang negara-negara Asia mereka tetap saja survive. Kenapa? Karena mereka memiliki generasi yang tangguh untuk melawan krisis. Dan, ketangguhan ini merupakan dampak positif dari pelaksanaan pendidikan nasionalnya.
Analisis seperti itu mungkin ada benarnya, akan tetapi mendudukkan krisis ekonomi sebagai satu-satunya determinan tentulah tidak tepat. Mengapa Korea Selatan, Thailand dan Malaysia sudah bisa kembali berpacu, sementara kita belum bisa sempurna berdiri tegak? Kita semestinya sepakat bahwa sebenarnya ada faktor yang lebih fundamental sebagai penyebab keterpurukan kita ; yaitu ketidakberhasilan pendidikan nasional kita. Sesungguhnya periode ini pendidikan nasional kita sudah mengalami perubahan dibandingkan pada pertengahan tahun 1990-an bahkan hingga 2003 silam. Kekurangtangguhan bangsa Indonesia pada saat itu merupakan akibat dari perjalanan buruk pendidikan 15, 20 sampai 40 tahun yang silam. Selama ini kita kurang bersungguh-sungguh mengurus pendidikan dan hari ini kita tengah menuai dampaknya. Karena pendidikan kita tidak menghasilkan kader-kader bangsa yang berkemauan tulus dan berkemampuan profesional maka kita tidak sanggup menahan krisis dan ketikaaneka krisis sudah berkecamuk yang menghantar kita dalam keterpurukan maka kita pun sulit untuk melakukan recovery.
Kita dapat belajar dari Australia, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, dan sebagainya; ketika badai krisis menyerang negara-negara Asia mereka tetap saja survive. Kenapa? Karena mereka memiliki generasi yang tangguh untuk melawan krisis. Dan, ketangguhan ini merupakan dampak positif dari pelaksanaan pendidikan nasionalnya.
Dalam soal anggaran misalnya, sejak dulu
pemerintah kita tidak mau mengalokasi anggaran pendidikan dalam jumlah yang
memadai. Dari tahun ke tahun rasanya belum pernah satu kali pun besarnya
anggaran pendidikan kita mencapai 20 persen dari total anggaran negara. RAPBN
2007 hanya menganggarkan dana pendidikan yang tidak mencapai target, jauh dari
janji-janji 20 persen sebelumnya. Akibatnya pendidikan di Indonesia kurang
diperhatikan terutama pendidikan bagi masyarakat bawah, bukan hanya diperguruan
tinggi bahkan biaya sekolahpun masih mahal bagi masyarakat. Hal inipun menjadi
beban dalam meningkatkan pendidikan walaupun dengan menerapkannya biaya
pendidikan gratis dan memerlukan pemikiran optimis dalam mencerdaskan bangsa.
Kita tak mau menengok realitas ke kanan–kiri misalnya ke Malaysia, Singapura, Australia, dan Selandia Baru yang mengalokasi anggaran pendidikan setidak-tidaknya 15 persen dari total pengeluaran setiap tahun. Anggaran pendidikan di Malaysia sangat sering mencapai angka 20 persen. Dua puluh tahun lalu Malaysia masih menjadi "murid" kita, banyak pemuda Malaysia dikirim ke Indonesia untuk menimba ilmu di berbagai perguruan tinggi kita. Di sisi lain pemerintah Malaysia juga mendatangkan banyak guru, dosen, dan peneliti kita untuk mengembangkan pendidikan nasionalnya. Para pejabat pemerintah Malaysia memiliki komitmen dan sense of education yang memadai dengan mengalokasi anggaran pendidikan secara signifikan. Alhasil, Malaysia maju berkembang dengan dengan sumber daya manusia yang tangguh 80-an.
Kita tak mau menengok realitas ke kanan–kiri misalnya ke Malaysia, Singapura, Australia, dan Selandia Baru yang mengalokasi anggaran pendidikan setidak-tidaknya 15 persen dari total pengeluaran setiap tahun. Anggaran pendidikan di Malaysia sangat sering mencapai angka 20 persen. Dua puluh tahun lalu Malaysia masih menjadi "murid" kita, banyak pemuda Malaysia dikirim ke Indonesia untuk menimba ilmu di berbagai perguruan tinggi kita. Di sisi lain pemerintah Malaysia juga mendatangkan banyak guru, dosen, dan peneliti kita untuk mengembangkan pendidikan nasionalnya. Para pejabat pemerintah Malaysia memiliki komitmen dan sense of education yang memadai dengan mengalokasi anggaran pendidikan secara signifikan. Alhasil, Malaysia maju berkembang dengan dengan sumber daya manusia yang tangguh 80-an.
Sekalipun kita meyakini bahwa laporan
UNDP itu tidak 100 persen valid, apa salahnya kita merasa terkejut, terpukul
dan menarik pelajaran dari publikasi itu? Lebih rendahnya kualitas manusia
Indonesia dibandingkan dengan negara-negara tetangga dan sebagian negara
terbelakang harus kita akui untuk dijadikan alat pemicu dan pemacu guna
perbaikan diri. Jika tidak, implikasi ketidaksungguhan kita mengelola
pendidikan hari ini akan terasa akibatnya 15 -30 tahun mendatang. Saat itu, era
perdagangan bebas dunia sudah berputar dan bukan mustahil, manusia-manusia kita
hanya akan menjadi tenaga pekerja dinegara sendiri.
Dalam waktu dekat, bangsa Indonesia akan
memilih presiden sekaligus pemerintahan baru. Presiden baru nantinya harus
segera terkejut dengan kondisi sumber daya manusia, seperti bangsa AS yang
pernah didera efek Sputnik. Pasca efek Sputnik, pemerintah AS menyediakan dana
tak terbatas untuk pendidikan, memberdayakan daerah dan kota guna memajukan
pendidikan, dan membantu unit-unit masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan
bermutu.
Dibanding kita kasak - kusuk berdebat
mengenai presiden yang dilihat dari militer atau sipil, sosok figur atau
dukungan partai, nasionalis atau agamis - lebih baik kita menyatukan pendapat
bahwa presiden mendatang harus sosok yang bisa memajukan pendidikan bangsa.
Kita harus bisa sepakat bahwa kita wajib memilih presiden yang mau peduli
dengan pendidikan demi mencerdaskan bangsa dan kemakmuran rakyat. Seharusnya
itulah kriteria nomor satu dan yang paling wajib kita dahulukan guna
mensejajarkan bangsa di era globalisasi. Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar