Senantiasa terus belajar, memperbaiki diri dan memberikan kemanfaatan bagi yang lain. Hendaknya kehadiran kita ada sesuatu manfaat yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita, baik itu tenaga, pikiran, materi dll. Tampakkan wajah ceria, murah senyum, tidak sekadar simpati saja, tetapi bagaimana bisa berempati. Berbagi dengan sesama, mengutamakan kepentingan saudaranya, saling berlomba dalam kebaikan dan taqwa.


Rabu, 23 April 2014

Politikus dan Pemilih

Oleh : Prof Dr Sudjito SH MSi
(Guru Besar Ilmu Hukum, dan Kepala Pusat Studi Pancasila UGM)

PEMILIHAN umum legislatif (pileg) telah berlalu. Secara umum, pileg berlangsung aman dan damai. Kita bersyukur atas rahmat Allah SWT itu. Persoalannya, apakah calon-calon legislator (caleg) itu cerdas dan amanah dalam jabatannya. Persoalan ini menghantui bangsa dalam menatap masa depan, dan oleh karenanya layak dianalisis.

Bagi orang beriman dan ber-Pancasila, tentu tidak asing dengan permohonan seorang Nabi agar umatNya dijauhkan dari kepemimpinan orang-orang tidak amanah. Dipastikan doa Nabi itu makbul. Akan tetapi, sungguh sayang, umat yang didoakan justru menolak terkabulkannya doa itu. Itulah politikus dan pemilih yang terlibat 'money politics'. Tragis, realitas ini terhampar di seluruh penjuru negeri.

Seorang sopir, saat menjelang pileg, menjemput ke rumah untuk ujian tertutup calon doktor pada sebuah universitas swasta. ”Maaf Prof, terlambat, karena terjebak kampanye”, katanya. ”Njih. Tidak apa. Utamakan keselamatan. Jangan ngebut”, jawab saya. Dalam perjalanan, saya coba menyelami alam pikiran dan pandangannya tentang pileg melalui percakapan. ”Besok mau coblos yang mana Pak?”. Apa jawabnya, ”Terus terang saya akan datang tetapi tidak coblos”. Lho apa alasannya?
Dijawab, pertama, saya datang untuk menghormati undangan. Ini etika hidup bermasyarakat. Kedua, saya tidak coblos karena tidak mau ternodai dosa politik. Memilih penguasa bodoh itu dosa dan berbahaya”, tegasnya. ”Itulah sebabnya, saya akan netral dan tidak mau golput alias golongan pungut uang tunai”.

Sungguh beruntung menjadi seorang sopir bijak, cerdas dan istiqomah. Mampu membentengi diri dari dosa politik. Harmoni antara batin dan lahirnya, seimbang antara jiwa dan raganya, terpadu antara kepribadian dan kemasyarakatannya. Pandangan dan sikap politiknya, bak air yang mampu memadamkan api, mampu merembesi tanah demi kesuburan pepohonan, mampu memberi kesejukan ditengah kegersangan. Betapapun dalam strata sosial, ekonomi maupun politik, eksistensinya berada pada lapisan bawah tetapi esensinya senilai mutiara, sepadan guru besar ilmu politik. Kalaupun adanya di dasar laut atau tersembunyi, sunyi dan sepi di dalam kampus, pastilah tetap berkilau, dicari orang lantaran bermakna tinggi dalam kehidupan. 

Pada dimensi praksis, demokrasi ‘salah-kaprah’, telah menggerus etika-moral dan estetika, serta-merta menggantikannya dengan nafsu politik. Kalaupun masih tersisa amal saleh, sering muncul sebagai bungkus aneka ragam kemaksiatan. Benar, bahwa setiap hari politikus bertambah tabungan harta-bendanya, tetapi bertambah pula dosa-dosanya. Ironis, mereka tiada pernah merasa salah. Mengapa demikian? Mereka mengira, udara segar yang dihirupnya, lezat makanan yang dinikmatinya, azab dan bencana yang masih jauh darinya, dikira sebagai pertanda diridhai perilaku politiknya.

Padahal, apa yang dirasakannya sebagai kenikmatan hidup, merupakan cobaan atau ujian, apakah mereka cerdas dalam menangkap tanda-tanda zaman. Tanpa kepekaan kalbu, tanpa menimbang esensi strata dan amal perbuatan, mereka mengira bahwa gengsi sebagai majikan, glamour karena jabatan, kokoh karena kekuasaan, dipandangnya sebagai ukuran martabat dan kemuliaan. Perkiraan itu sungguh keliru bahkan sesat. 

Panggung politik identik dengan panggung sandiwara. Pada saatnya politikus naik panggung, bersenda-gurau, bermain-main, dan kemudian turun panggung dalam waktu sangat singkat. Peran dan perilaku hanya kepura-puraan, bukan kehidupan sebenarnya. Sungguh politikus dan pemilih tidak cerdas, kalau panggung politik dijadikan sebagai esensi kehidupan, sehingga dijalani dengan serius, total, hidup dan mati demi partai politik. Kerugian besar bagi mereka kalau tidak sadar dan tidak mampu mendayagunakan energi politiknya untuk menebar benih kemaslahatan sosial. Yakinlah, siapapun menebar angin akan menuai badai, siapapun menebar amal akan mendulang pahala, rela berjuang bagi bangsa akan melahirkan negara yang kokoh. 

Tetapi, apa mau dikata, barangkali sudah datang suatu masa dimana rakyat ‘salah kaprah’ berpikir.  Demi uang dan demi demokrasi ‘salah-kaprah’, hati-nurani dan akal sehat disirnakan. Sikap dan perilaku mayoritas dijadikan sebagai tradisi dan ukuran kebenaran, tanpa kendali dan tanpa koreksi. Padahal siapapun menjadi pengikut penguasa bodoh, taruhannya terlempar ke jurang kesengsaraan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar