Kaprodi Teknik Listrik, Akademi Komunitas Negeri Sumbawa Barat
Perguruan tinggi
mengemban tanggungjawab dan kewajiban yang besar, khususnya dalam melahirkan
sumberdaya intelektual, yang diharapkan nantinya bisa memberikan kontribusi
bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa ini. Perguruan
tinggi juga harus mampu mengkonstruktifitaskan institusinya secara moral dan
manajerial agar dapat survive dan mampu menyediakan semua proses intelektual
produk yang dihasilkannya kepada masyarakat secara sistematis, berkelanjutan
dan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat tentang harapan dan
cita-citanya mendapatkan manfaat belajar di perguruan tinggi. Sehingga dari
harapan inilah menjadikan peran perguruan tinggi sebagai menara gading dan
corong intelektual ditengah-tengah masyarakat.
Semenjak pemerintah
memberlakukan pendidikan karakter secara nasional di semua jenjang pendidikan
(Kompas, 13/7/2011), pendidikan karakter menjadi isu hangat dibidang
pendidikan, tidak terkecuali di Perguruan Tinggi. Beberapa forum ilmiah,
seminar dan diskusi melibatkan pakar berbagai disiplin ilmu, khususnya
pendidikan. Pada kegiatan itu membahas tentang karakter secara mendalam hingga
menjadi fokus topik dan tidak melebar kemana-mana.
Definisi karakter bila
diartikan menurut Ki Hajar Dewantara, dipandang karakter sebagai watak atau
budi pekerti, dengan kata lain bersatunya gerak pikiran, perasaan dan kehendak
atau kemauan yang kemudian menimbulkan tenaga. Dengan adanya budi pekerti
manusia akan menjadi pribadi yang merdeka sekaligus berkepribadian dan dapat
mengendalikan diri sendiri atau mandiri. Pendidikan yang baik menurut Ki Hajar
Dewantara yaitu mampu mengalahkan dasar-dasar jiwa manusia yang jahat,
menutupi, bahkan mengurangi sifat-sifat yang negatif. Pendidikan dikatakan
optimal jika sifat luhur lebih menonjol dalam diri daripada sifat-sifat negatif.
Manusia berkarakter inilah yang menurut Ki Hajar Dewantara sebagai sosok
beradab, sosok menjadi ancangan sejati pendidikan. Sehingga keberhasilan
pendidikan sejati adalah menghasilkan manusia beradab, bukan yang cerdas secara
kognitif dan psikomotorik tetapi miskin karakter dan budi pekerti luhur.
Pendidikan karakter menjadi
tuntutan para pengajar khususnya bagi dosen sudah selayaknya dominan dimiliki
dan tampak menonjol dari pribadi seorang dosen. Pendidikan karakterpula yang
menjadikan budi pekerti terhadap apa dan siapa yang akan dibimbing untuk
menghasilkan pribadi berbudi pekerti plus, yaitu pendidikan yang melibatkan
aspek pengetahuan (cognitive),
perasaan (feeling), dan tindakan (action). Ketika ketiga aspek diterapkan secara
sistematis dan berkelanjutan, maka peserta didik menjadi cerdas emosinya.
Kecerdasan emosi ini menjadi bekal guna
mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena akan lebih mudah dan berhasil
menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil
secara akademik.
Pendidikan karakter
merupakan usaha yang disengaja untuk mengembangkan karakter yang baik
berdasarkan nilai-nilai inti yang baik untuk individu dan baik untuk masyarakat.
Salah satu lembaga yang dapat berperan dlam pendidikan karakter adalah peruruan
tinggi. Dengan demikian, dalam lingkungan perguruan tinggi tersebut tersedia suatu lingkungan moral (moral environtment) yang menekankan
nilai-nilai yang baik dan menjaganya dalam kesadaran setiap orang. Sebuah
lingkungan yang dapat mengubah nilai menjadi sebuah kebaikan dan mengembangkan
kesadaran intelektual menjadi kebiasaan personal dalam pikiran, perasaan dan
tindakan. Selain memiliki karakter ideal yang diuraikan sebelumnya karakter
juga menjadi tantangan yang begitu berat dan komplek bagi pendidik, juga hasil
dari karakter yang diberikan juga memiliki soft
skill atau kecakapan hidup. Dengan kata lain soft skill sebagai bagian karakter mahasiswa dan memiliki peran
yang amat penting. Bahkan umumnya praktik pendidikan yang dilakukan cenderung
berorientasi pada pendidikan berbasis hard
skill (keterampilan teknis) yang lebih bersifat mengembangkan Intelligence Quotient (IQ), namun kurang
mengembangkan kemampuan soft skill yang
tertuang dalam Emosional Quotient
(EQ), dan Spiritual Qoutient (SQ). Keritikan
dalam pendidikan yang berbasis hard skill,
saat ini sudah mulai bergeser. Saat ini mulai ditekankan pembelajaran yang
berbasis soft skill (interaksi sosial),
karena dalam pembentukan karakter generasi bangsa harus mampu bersaing,
beretika, bermoral, sopan santun, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Pendidikan soft skill bertumpu pada
pembinaan mentalitas agar anak bangsa dapat menyesuaikan diri dengan realitas
kehidupan. Singkatnya saat ini dalam dunia pendidikan telah timbul kesadaran
bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan
keterampilan teknis (hard skill)
saja, tetapi juga kerampilan mengelola diri dan orang lain.
Peranan Dosen dalam Pendidikan Karakter
Seorang
dosen mempunyai peranan yang penting dalam khasanah ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni. Peranan utama dosen antara lain, mentransformasikan,
mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, yang
dibingkai dalam berbagai aktivitas Tridharma Perguruan Tinggi yang mencakup
kegiatan : a). Melaksanakan pendidikan dan pengajaran/pembelajaran; b). Melaksanakan
penelitian; dan c). Melaksanakan pengabdian masyarakat.
Peranan dosen dalam
mentransformasikan dinyatakan dalam mentranformasikan ilmu pengetahuan dan
teknologi, dimana saat ini menurut analisa refleksi para ahli, fungsi ilmu
pengetahuan dan teknologi bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia
mencapai tujuan hidup. Tetapi ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menciptakan tujuan
hidup sendiri.
Melalui kegiatan pembelajaran dosen
berperan mencerahkan kepada mahasiswa mengenai berbagai hal yang terjadi dalam
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembelajaran yang dilakukan oleh
seorang dosen hendaknya tidak hanya sekedar mengenalkan kepada para mahasiswa
fakta, konsep, prinsip, dan prosedur saja, tetapi mahasiswa hendaknya diarahkan
untuk bisa sampai pada tahapan bagaimana mampu menganalisa, mensintesis,
mengevaluasi, dan merefleksikan berbagai persoalan yang relevan. Tahapan inilah
mahasiswa dapat berkarya dengan memberikan kontribusi terhadap dunia pendidikan,
seperti melakukan pembuatan karya ilmiah sederhana. Perubahan seperti itu
memberikan dampak besar bagi mahasiswa dan dunia pendidikan bahkan menjadikan suatu
pengalaman akademis mahasiswa yang dilakukan ketika dimasa pembelajaran di
kampus.
Peranan
sebagai pengembang (developer)
merupakan peranan yang dilakukan dalam Tridharma Perguruan Tinggi yaitu melalui
kegiatan penelitian. Kegiatan penelitian dapat mengembangkan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni, yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk
kesejahteraan masyarakat. Melalui penelitian dosen dapat mengembangkan peranan
diri menjadi manusia yang berkualitas. Antara lain indikator yang menjadikan
dosen sebagai peneliti yang baik, yaitu : a). Penelitian dapat dipublikasikan secara
luas misalnya melalui jurnal, buku, media online ataupun media cetak; b). Dosen
mampu berberkompetisi dalam membuat proposal penelitian; c). Dosen mampu
membuat penelitian berlandaskan etika penelitian; d). Dosen mampu membuat
terobosan dan memunculkan gagasan baru melalui kajian terdahulu; dan e). Dosen
mampu menumbuhkan budaya penelitian dilingkungan perguruan tinggi.
Menyebarluaskan
ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dilakukan melalui fungsi pengabdian kepada
masyarakat. Pengabdian dengan maksud mengangkat derajat hidup dan berkhidmat
kepada masyarakat. Pengabdian dapat berupa pelayanan terhadap masyarakat
khususnya masyarakat sekolah/lembaga pendidikan, dosen dengan ilmunya
memberikan karya ilmiah sebagai penguatan informasi terhadap dunia pendidikan.
Pengabdian juga dapat dilakukan dengan bentuk program kerja bersama instansi
bahkan pengabdian masyarakat melalui kerjasama dengan yayasan social dalam
bentuk pemberdayaan/peguatan masyarakat.
Bersama
tugas dan tanggung jawab dosen dalam partisipasi membangun dunia pendidikan,
disinilah karakter unggul terbentuk melalui penerapan langsung di perguruan
tinggi bahkan menjadikan pembentukan karakter bagi mahasiswa melalui ilmu
pengetahuan dan teknologi yang menjadi modal besar bangsa dalam mencerdaskan
kehidupan. Selaras dengan tujuan yang mendasar dalam pandangan cita-cita bangsa
Indonesia. Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar