Senantiasa terus belajar, memperbaiki diri dan memberikan kemanfaatan bagi yang lain. Hendaknya kehadiran kita ada sesuatu manfaat yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita, baik itu tenaga, pikiran, materi dll. Tampakkan wajah ceria, murah senyum, tidak sekadar simpati saja, tetapi bagaimana bisa berempati. Berbagi dengan sesama, mengutamakan kepentingan saudaranya, saling berlomba dalam kebaikan dan taqwa.


Kamis, 03 April 2014

Membentuk Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi

Oleh : Ibnu Adam, ST., MM 
Kaprodi Teknik Listrik, Akademi Komunitas Negeri Sumbawa Barat


Perguruan tinggi mengemban tanggungjawab dan kewajiban yang besar, khususnya dalam melahirkan sumberdaya intelektual, yang diharapkan nantinya bisa memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa ini. Perguruan tinggi juga harus mampu mengkonstruktifitaskan institusinya secara moral dan manajerial agar dapat survive dan mampu menyediakan semua proses intelektual produk yang dihasilkannya kepada masyarakat secara sistematis, berkelanjutan dan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat tentang harapan dan cita-citanya mendapatkan manfaat belajar di perguruan tinggi. Sehingga dari harapan inilah menjadikan peran perguruan tinggi sebagai menara gading dan corong intelektual ditengah-tengah masyarakat.
Semenjak pemerintah memberlakukan pendidikan karakter secara nasional di semua jenjang pendidikan (Kompas, 13/7/2011), pendidikan karakter menjadi isu hangat dibidang pendidikan, tidak terkecuali di Perguruan Tinggi. Beberapa forum ilmiah, seminar dan diskusi melibatkan pakar berbagai disiplin ilmu, khususnya pendidikan. Pada kegiatan itu membahas tentang karakter secara mendalam hingga menjadi fokus topik dan tidak melebar kemana-mana.
Definisi karakter bila diartikan menurut Ki Hajar Dewantara, dipandang karakter sebagai watak atau budi pekerti, dengan kata lain bersatunya gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan yang kemudian menimbulkan tenaga. Dengan adanya budi pekerti manusia akan menjadi pribadi yang merdeka sekaligus berkepribadian dan dapat mengendalikan diri sendiri atau mandiri. Pendidikan yang baik menurut Ki Hajar Dewantara yaitu mampu mengalahkan dasar-dasar jiwa manusia yang jahat, menutupi, bahkan mengurangi sifat-sifat yang negatif. Pendidikan dikatakan optimal jika sifat luhur lebih menonjol dalam diri daripada sifat-sifat negatif. Manusia berkarakter inilah yang menurut Ki Hajar Dewantara sebagai sosok beradab, sosok menjadi ancangan sejati pendidikan. Sehingga keberhasilan pendidikan sejati adalah menghasilkan manusia beradab, bukan yang cerdas secara kognitif dan psikomotorik tetapi miskin karakter dan budi pekerti luhur.
Pendidikan karakter menjadi tuntutan para pengajar khususnya bagi dosen sudah selayaknya dominan dimiliki dan tampak menonjol dari pribadi seorang dosen. Pendidikan karakterpula yang menjadikan budi pekerti terhadap apa dan siapa yang akan dibimbing untuk menghasilkan pribadi berbudi pekerti plus, yaitu pendidikan yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Ketika ketiga aspek diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, maka peserta didik menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi  ini menjadi bekal guna mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademik.
Pendidikan karakter merupakan usaha yang disengaja untuk mengembangkan karakter yang baik berdasarkan nilai-nilai inti yang baik untuk individu dan baik untuk masyarakat. Salah satu lembaga yang dapat berperan dlam pendidikan karakter adalah peruruan tinggi. Dengan demikian, dalam lingkungan perguruan tinggi  tersebut tersedia suatu lingkungan moral (moral environtment) yang menekankan nilai-nilai yang baik dan menjaganya dalam kesadaran setiap orang. Sebuah lingkungan yang dapat mengubah nilai menjadi sebuah kebaikan dan mengembangkan kesadaran intelektual menjadi kebiasaan personal dalam pikiran, perasaan dan tindakan. Selain memiliki karakter ideal yang diuraikan sebelumnya karakter juga menjadi tantangan yang begitu berat dan komplek bagi pendidik, juga hasil dari karakter yang diberikan juga memiliki soft skill atau kecakapan hidup. Dengan kata lain soft skill sebagai bagian karakter mahasiswa dan memiliki peran yang amat penting. Bahkan umumnya praktik pendidikan yang dilakukan cenderung berorientasi pada pendidikan berbasis hard skill (keterampilan teknis) yang lebih bersifat mengembangkan Intelligence Quotient (IQ), namun kurang mengembangkan kemampuan soft skill yang tertuang dalam Emosional Quotient (EQ), dan Spiritual Qoutient (SQ). Keritikan dalam pendidikan yang berbasis hard skill, saat ini sudah mulai bergeser. Saat ini mulai ditekankan pembelajaran yang berbasis soft skill (interaksi sosial), karena dalam pembentukan karakter generasi bangsa harus mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun, dan berinteraksi dengan masyarakat. Pendidikan soft skill bertumpu pada pembinaan mentalitas agar anak bangsa dapat menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan. Singkatnya saat ini dalam dunia pendidikan telah timbul kesadaran bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill) saja, tetapi juga kerampilan mengelola diri dan orang lain.

Peranan Dosen dalam Pendidikan Karakter
            Seorang dosen mempunyai peranan yang penting dalam khasanah ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Peranan utama dosen antara lain, mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, yang dibingkai dalam berbagai aktivitas Tridharma Perguruan Tinggi yang mencakup kegiatan : a). Melaksanakan pendidikan dan pengajaran/pembelajaran; b). Melaksanakan penelitian; dan c). Melaksanakan pengabdian masyarakat.
Peranan dosen dalam mentransformasikan dinyatakan dalam mentranformasikan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana saat ini menurut analisa refleksi para ahli, fungsi ilmu pengetahuan dan teknologi bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidup. Tetapi ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menciptakan tujuan hidup sendiri.
Melalui kegiatan pembelajaran dosen berperan mencerahkan kepada mahasiswa mengenai berbagai hal yang terjadi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembelajaran yang dilakukan oleh seorang dosen hendaknya tidak hanya sekedar mengenalkan kepada para mahasiswa fakta, konsep, prinsip, dan prosedur saja, tetapi mahasiswa hendaknya diarahkan untuk bisa sampai pada tahapan bagaimana mampu menganalisa, mensintesis, mengevaluasi, dan merefleksikan berbagai persoalan yang relevan. Tahapan inilah mahasiswa dapat berkarya dengan memberikan kontribusi terhadap dunia pendidikan, seperti melakukan pembuatan karya ilmiah sederhana. Perubahan seperti itu memberikan dampak besar bagi mahasiswa dan dunia pendidikan bahkan menjadikan suatu pengalaman akademis mahasiswa yang dilakukan ketika dimasa pembelajaran di kampus.
            Peranan sebagai pengembang (developer) merupakan peranan yang dilakukan dalam Tridharma Perguruan Tinggi yaitu melalui kegiatan penelitian. Kegiatan penelitian dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat. Melalui penelitian dosen dapat mengembangkan peranan diri menjadi manusia yang berkualitas. Antara lain indikator yang menjadikan dosen sebagai peneliti yang baik, yaitu : a). Penelitian dapat dipublikasikan secara luas misalnya melalui jurnal, buku, media online ataupun media cetak; b). Dosen mampu berberkompetisi dalam membuat proposal penelitian; c). Dosen mampu membuat penelitian berlandaskan etika penelitian; d). Dosen mampu membuat terobosan dan memunculkan gagasan baru melalui kajian terdahulu; dan e). Dosen mampu menumbuhkan budaya penelitian dilingkungan perguruan tinggi.
            Menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dilakukan melalui fungsi pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian dengan maksud mengangkat derajat hidup dan berkhidmat kepada masyarakat. Pengabdian dapat berupa pelayanan terhadap masyarakat khususnya masyarakat sekolah/lembaga pendidikan, dosen dengan ilmunya memberikan karya ilmiah sebagai penguatan informasi terhadap dunia pendidikan. Pengabdian juga dapat dilakukan dengan bentuk program kerja bersama instansi bahkan pengabdian masyarakat melalui kerjasama dengan yayasan social dalam bentuk pemberdayaan/peguatan masyarakat.
            Bersama tugas dan tanggung jawab dosen dalam partisipasi membangun dunia pendidikan, disinilah karakter unggul terbentuk melalui penerapan langsung di perguruan tinggi bahkan menjadikan pembentukan karakter bagi mahasiswa melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi modal besar bangsa dalam mencerdaskan kehidupan. Selaras dengan tujuan yang mendasar dalam pandangan cita-cita bangsa Indonesia. Wassalam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar