Senantiasa terus belajar, memperbaiki diri dan memberikan kemanfaatan bagi yang lain. Hendaknya kehadiran kita ada sesuatu manfaat yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita, baik itu tenaga, pikiran, materi dll. Tampakkan wajah ceria, murah senyum, tidak sekadar simpati saja, tetapi bagaimana bisa berempati. Berbagi dengan sesama, mengutamakan kepentingan saudaranya, saling berlomba dalam kebaikan dan taqwa.


Minggu, 08 Juni 2014

Cahaya Kehidupan

Oleh : Ibnu Adam, ST., MM dan Taufiq Ritonga

Bumi tanpa cahaya matahari akan hampa dan kehidupan akan binasa. Begitulah ibarat hati manusia, tanpa cahaya ilmu hati akan sakit dan mati. Nah seseorang yang hatinya mati, dia tidak tahu tentang Rabb-nya, tidak menyembah-Nya, tidak mencintai apa yang seharusnya dicintai-Nya dan tidak mencari Ridlo-Nya. Tetapi dia hanya menuruti ambisi syahwat walaupun di sana akan mendatangkan kemarahan Rabb-Nya. Dia tidak peduli apakah Rabb-Nya ridlo atau murka yang penting dia telah melampiaskan syahwat dan keinginannya.

Ilmu adalah kehidupan dan cahaya sedangkan kebodohan adalah kematian dan kegelapan. Timbulnya kesengsaraan adalah sebab kegelapan dan kematian. Adapun sebab kebahagiaan adalah karena adanya cahaya dan kehidupan. Karena cahaya dapat menampakkan hakikat segala sesuatu.oleh karena itu carilah kebahagian hidup dan terangilah dengan ilmu-ilmu agama selalulah sirami hati dengan cahaya ilmu yang bermanfaat, tingkatkan selalu dengan menghadiri majelis ilmi, mendatangi ulama, mengkaji berbagai buku-buku yang berkaitan dengan agama dan perkembanganya. ketahuilah sebenarnya ilmu juga bisa melenyapkan berbagai macam penyakit hati, melembutkan kekerasan watak, dan mengikis dari sifat sombong dan akhirnya jadilah hati tersebut bersih, sehat dan selamat.
Seorang yang berilmu jika dihadapkan dengan permasalahan ia akan dengan sangat bijak sana dalam menyikapinya, tidak sembarangan dalam bertindak, dan memutuskan dengan sangat matang, Jadi orang yang memiliki banyak ilmu, tidak disangsikan lagi akan dapat menghasilkan tafakur yang berbobot, dan allah akan melebihkan derajatnya dibanding yang lain, sebagai mana firman allah:

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs. Mujadilah, 58:11)

Ilmu adalah nikmat Allah yang paling besar, dengannya kita bisa mengenal keesaan tuhan yang satu-satunya pencipta untuk semua yang ada didunia, dengan ilmu pula kita menyembahnya, mengagungkanya. Walaupun memang harta, pangkat dan jabatan adalah nikmat yang selalu diburu oleh manusia akan tetapi semua itu tidak memperkenalkan kita kepada tuhan, malah kesemuaan itu bisa menyesatkan kita kejalan yang nista dan jauh dari pada cahaya ilahi.

Prof. Dr. Hamka berkata :
"Ilmu itu tiang untuk kesempurnaan akal. Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambah datanglah bahagia. Bertambah sempit akal, bertambah sempit pula hidup, bertambah datanglah celaka.".

Islam banyak menjelaskan bahwa ilmu memiliki posisi diatas segala-galanya, didalam sebuah riwayat Rasulullah SAW menerangkan sebagai berikut:

Anshar bertanya kepada Rasulullah saw.,"Wahai Rasulullah, jika ada orang yang meninggal dunia bertepatan dengan acara majlis ulama, manakah yang lebih berhak mendapatkan perhatian?". Jika telah ada orang yang mengantar dan menguburkan jenazah itu, maka menghadiri majlis ulama itu lebih utama daripada melayat seribu jenazah. Bahkan ia lebih utama daripada menjenguk seribu orang sakit, atau shalat seribu hari seribu malam, atau sedekah seribu dirham pada fakir miskin, ataupun seribu kali berhaji; bahkan lebih utama daripada seribu kali berperang di jalan Allah dengan jiwa dan ragamu!. Tahukah engkau bahwa Allah dipatuhi dengan ilmu, dan di sembah dengan ilmu pula?. Tahukah engkau bahwa kebaikan dunia dan akhirat adalah dengan ilmu, sedangkan keburukan dunia dan akhirat adalah dengan kebodohan?.

Tuntutlah ilmu karena Allah ta’ala, perdalamlah selalu karena ilmu tidak akan merugikan, ilmu membawa pada kemuliaan pemiliknya didunia, meninggikan martabatnya dimata masyarakat, dan akan selalu dihormati dimanapun ia langkahkan kakinya. Jika si pemilik ilmu pergi berdakwah menyampaikan ilmunya ditengah-tengah manusia, maka disitu ilmunya akan mengangkat martabatnya diantara banyak manusia, karena mereka akan tertarik kepada kebenaran ucapanya yang selalu mengikut sertakan dalil-dalil nyata, lemah lembut dan penuh kesopanan dalam menyampaikan kebenaran hingga selalu menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia.

Maka seorang penuntut ilmu yang berjalan di atas hujjah, ia mengetahui dalil-dalil syar'iyah, mengetahui hukum-hukum Islam dan mengamalkannya, tetap tegak kepalanya di mana saja dan tetap terhormat di mana saja, lebih-lebih di tengah-tengah jama'ahnya dan penduduk negerinya bila mereka mengetahui keilmuan dan wejangannya serta kejujuran dan kehati-hatiannya. Sebab, itulah faktor-faktor yang menyebabkannya terhormat, bahkan menjadi dokter yang bijaksana yang menyeru ke jalan Allah dengan hujjah dan kelembutan.

Orang yang demikian akan tegak kepalanya dan dihormati di mana saja, di desa atau kabilah atau lainnya jika ia berperilaku dengan ilmu, baik perkataan maupun perbuatan, jauh dari perilaku fasik dan karakter orang-orang jahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar