Oleh : Ibnu Adam, ST., MM
Masa kampanye terbuka menjelang pemilihan umum calon legislatif 9 April 2009, tepatnya Minggu 15 Maret 2009 kampanye baru mulai berlangsung. Namun, "banjir" spanduk dan pamflet yang terpampang di berbagai tempat di Kota-kota sudah lama terjadi. Malah, kian hari jumlah reklame "narsis" berbagai ukuran itu pun kian banyak "mengotori" pemandangan Kota, hingga ke gang-gang sempit. Tak tanggung-tanggung, terkadang pada satu tempat dipasang lebih dari lima calon yang berbeda. Ukurannya juga beragam, mulai ukuran kecil yang dipaku di pohon atau diikat di tiang-tiang listrik, hingga yang luar biasa besar, yang terpasang kokoh dengan fondasi permanen di jalan-jalan besar. Uang yang dihabiskan pun tentu tak sedikit karena mencapai ratusan juta rupiah. Namun masyarakat hingga saat ini masih bingung menentukan pilihan Partai Politik (Parpol) atau Calon Legislatif (Caleg) favoritnya, dikarenakan banyaknya Parpol dan Caleg yang ada.
Apakah dari spanduk/pamflet
yang terpampang banyak dan besar ini akan mempengaruhi putusan dari pemilik hak
suara? Tentu saja tidak, dari sekian banyak spanduk/pamflet yang dipasang
diberbagai tempat ternyata hanya diindahkan oleh sesama Caleg yang jadi
pesaingnya tetapi lebih efektif turun ke masyarakat untuk bersosialisasi,
karena spanduk/pamflet itu hanya saingan sesama Caleg. Strategi “perang” di
udara alias memasang banyak spanduk diberbagai tempat dengan memamerkan wajah
narsis inipun juga cara yang efektif untuk memastikan nama dan siapa yang harus
dicontreng. Bukan hanya wajah narsis tetapi dengan spanduk yang unik dan
kreatif juga akan efektif dalam kompetisi pemilihan Caleg mendatang. Selain itu
Caleg juga harus memiliki pengalaman atau track record dalam berorganisasi baik
di dunia akademisi maupun politik.
Masyarakat sebagai pemilih
harus tahu Caleg yang berintegritas tinggi, bukan hanya Caleg yang berani
membayar dengan uang (money politic).
Strategi Caleg untuk memperoleh suara terbanyak sangat beragam seperti dengan
berani membayar dengan uang agar dapat menempati urutan pertama pada sebuah
partai, sehingga mereka mempunyai peluang untuk terpilih sebagai anggota
DPR/DPRD, karena dapat mengeliminasi calon-calon legislatif secara instant.
Dikhawatirkan jika Caleg yang instant tidak bisa mengemban amanah yang telah diberikan
oleh rakyat, sehingga ketika duduk di DPR/DPRD tidak lagi berkonsentrasi
memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakili, tetapi hanya ingin memperoleh
kembali finansial yang telah dikeluarkan dimasa kampanye bahkan menjadi
motivasi negatif sebagai anggota DPR/DPRD di masa menjabat. Oleh karena itu
masyarakat harus benar-benar jeli dalam memilih Calegnya yang mana mampu
memberikan pencerahan terhadap masa depan, karena setiap Caleg berdiri paling depan dalam mempertahankan NKRI,
UUD 1945 maupun Pancasila sebagai harga mati, dan juga Indonesia memiliki
kemajemukan yang hendaknya memandang perbedaan sebagai tujuan untuk saling
mengenal. Caleg yang mempunyai sikap demikian tidak bisa datang dengan
tiba-tiba, tetapi mereka harus mendapatkan pelatihan yang cukup dan dilakukan
secara kontinu oleh partainya. Bukan seperti mengikuti pelatihan atau workshop
kompetensi Caleg yang pernah ada akhir-akhir ini di salahsatu Perguruan Tinggi
di Solo, Jawa Tengah. Caleg harus sejalan dengan prestasi organisasi, baik organisasi
umum maupun partai dan juga harus sesuai dengan visi dan misi dari partai yang
dipegangnya bukan hanya partai hanya sebagai sarana untuk memasuki dunia
politik. Saat ini memang banyak yang mengikuti ajang pemilihan bursa Caleg dan
saat ini juga masyarakat harus tahu mana yang berintegritas tinggi terhadap
daerah. Bahkan untuk mendapatkan Caleg yang potensialpundi Indonesia pernah melakukan tes
kejiwaan terhadap ratusan Caleg yang mendaftar, seperti yang pernah dilakukan
di Kabupaten Cianjur kemarin selama 3 hari digodok oleh Tim Pemeriksa Kesehatan
dari Kampus Akademi Perawat Cianjur. Ini merupakan serangkaian prosedur yang
seharusnya dilakukan agar para Caleg sebelum dan sesudahnya dapat memperoleh
kepribadian yang matang. Hal ini terlihat pada sikap dan pribadi mantan
Presiden yang selalu tidak hadir dalam pelantikan Presiden baru, mereka masih
mempunyai rasa dendam ketika rivalnya menang dalam pemilihan. Contohnya dalam
pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS), seorang mantan calon presiden yang tidak
terpilih masih mempunyai hubungan baik dengan rivalnya yang telah terpilih
sebagai Presiden. John McCain ketika berkampanye memang kelihatan bermusuhan
dengan Barack Obama, tetapi Barack Obama terpilih McCain mengakui keunggulan
Obama bahkan tetap mempunyai hubungan baik dan berjanji akan mendukung Obama.
Sikap dan pribadi ini yang diharapkan oleh
para Caleg di Indonesia yaitu dengan berjiwa besar dalam menghadapi bangsa.
Bukan sebaliknya yang banyak terjadi di negeri kita Indonesia sejak masa
reformasi dalam pemilihan Bupati, Gubernur, maupun Presiden yang selalu
berakhir dengan kekerasan dan keributan. Mungkin ini yang disebut dengan
Demo-Crazy, masalah demokrasi memang sangat bergantung pada sikap dan pribadi
kita dalam meghadapi masalah.
Sangat mengharukan lagi jika
mantan Caleg yang tidak terpilih dalam kompetisi ini mejadi bulan-bulanan untuk
memikirkan perjuangannya dalam bursa politik. Bahkan menjadi beban pikiran yang
tak tanggung-tanggung, seperti yang telah dilakukan oleh Mantan Calon Bupati Ponorogo
yang telah banyak mengeluarkan materi dan finansial hingga stress
berkepanjangan akibat dari gagalnya kompetisi Calon Bupati disaat itu. Ini
merupakan suatu contoh hal yang harus kita perhatikan, bagaimana kita harus
menyiasati dampak dari bursa politik.
Hal diatas bukan hanya harus
diketahui oleh masyarakat pembaca tetapi juga harus diketahui oleh para Caleg
yang ingin menghadapi kariernya di dunia politik. Untuk menjadi sosok figur
politikpun tidaklah mudah, harus memerlukan strategi-strategi khusus diberbagai
macam lini. Dengan itu kita harus mengerti terhadap apa, siapa, dan mengapa
kita memilih pilihan kita karena akan dibawa kemana nasib bangsa ini. Kita
lihat kedepan siapa yang akan menjadi figur politik, itu yang menentukan nasib
daerah dan juga harus diterima dengan dewasa dan lapang dada. Dan maksud dalam
menulis opini ini hanya menjadikan refleksi pembaca untuk mengetahui
seluk-beluk politis bukan untuk mengintervensi urusan politik. Semoga dalam
pemilihan besok akan berjalan dengan baik tanpa ada gangguan dan konflik.
Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar