Senantiasa terus belajar, memperbaiki diri dan memberikan kemanfaatan bagi yang lain. Hendaknya kehadiran kita ada sesuatu manfaat yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita, baik itu tenaga, pikiran, materi dll. Tampakkan wajah ceria, murah senyum, tidak sekadar simpati saja, tetapi bagaimana bisa berempati. Berbagi dengan sesama, mengutamakan kepentingan saudaranya, saling berlomba dalam kebaikan dan taqwa.


Kamis, 02 Januari 2014

Refleksi Politik Menghadapi Pemilu

Oleh : Ibnu Adam, ST., MM


       Masa kampanye terbuka menjelang pemilihan umum calon legislatif 9 April 2009, tepatnya Minggu 15 Maret 2009 kampanye baru mulai berlangsung. Namun, "banjir" spanduk dan pamflet yang terpampang di berbagai tempat di Kota-kota sudah lama terjadi. Malah, kian hari jumlah reklame "narsis" berbagai ukuran itu pun kian banyak "mengotori" pemandangan Kota, hingga ke gang-gang sempit. Tak tanggung-tanggung, terkadang pada satu tempat dipasang lebih dari lima calon yang berbeda. Ukurannya juga beragam, mulai ukuran kecil yang dipaku di pohon atau diikat di tiang-tiang listrik, hingga yang luar biasa besar, yang terpasang kokoh dengan fondasi permanen di jalan-jalan besar. Uang yang dihabiskan pun tentu tak sedikit karena mencapai ratusan juta rupiah. Namun masyarakat hingga saat ini masih bingung menentukan pilihan Partai Politik (Parpol) atau Calon Legislatif (Caleg) favoritnya, dikarenakan banyaknya Parpol dan Caleg yang ada.

Apakah dari spanduk/pamflet yang terpampang banyak dan besar ini akan mempengaruhi putusan dari pemilik hak suara? Tentu saja tidak, dari sekian banyak spanduk/pamflet yang dipasang diberbagai tempat ternyata hanya diindahkan oleh sesama Caleg yang jadi pesaingnya tetapi lebih efektif turun ke masyarakat untuk bersosialisasi, karena spanduk/pamflet itu hanya saingan sesama Caleg. Strategi “perang” di udara alias memasang banyak spanduk diberbagai tempat dengan memamerkan wajah narsis inipun juga cara yang efektif untuk memastikan nama dan siapa yang harus dicontreng. Bukan hanya wajah narsis tetapi dengan spanduk yang unik dan kreatif juga akan efektif dalam kompetisi pemilihan Caleg mendatang. Selain itu Caleg juga harus memiliki pengalaman atau track record dalam berorganisasi baik di dunia akademisi maupun politik.
Masyarakat sebagai pemilih harus tahu Caleg yang berintegritas tinggi, bukan hanya Caleg yang berani membayar dengan uang (money politic). Strategi Caleg untuk memperoleh suara terbanyak sangat beragam seperti dengan berani membayar dengan uang agar dapat menempati urutan pertama pada sebuah partai, sehingga mereka mempunyai peluang untuk terpilih sebagai anggota DPR/DPRD, karena dapat mengeliminasi calon-calon legislatif secara instant. Dikhawatirkan jika Caleg yang instant tidak bisa mengemban amanah yang telah diberikan oleh rakyat, sehingga ketika duduk di DPR/DPRD tidak lagi berkonsentrasi memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakili, tetapi hanya ingin memperoleh kembali finansial yang telah dikeluarkan dimasa kampanye bahkan menjadi motivasi negatif sebagai anggota DPR/DPRD di masa menjabat. Oleh karena itu masyarakat harus benar-benar jeli dalam memilih Calegnya yang mana mampu memberikan pencerahan terhadap masa depan, karena setiap Caleg berdiri paling depan dalam mempertahankan NKRI, UUD 1945 maupun Pancasila sebagai harga mati, dan juga Indonesia memiliki kemajemukan yang hendaknya memandang perbedaan sebagai tujuan untuk saling mengenal. Caleg yang mempunyai sikap demikian tidak bisa datang dengan tiba-tiba, tetapi mereka harus mendapatkan pelatihan yang cukup dan dilakukan secara kontinu oleh partainya. Bukan seperti mengikuti pelatihan atau workshop kompetensi Caleg yang pernah ada akhir-akhir ini di salahsatu Perguruan Tinggi di Solo, Jawa Tengah. Caleg harus sejalan dengan prestasi organisasi, baik organisasi umum maupun partai dan juga harus sesuai dengan visi dan misi dari partai yang dipegangnya bukan hanya partai hanya sebagai sarana untuk memasuki dunia politik. Saat ini memang banyak yang mengikuti ajang pemilihan bursa Caleg dan saat ini juga masyarakat harus tahu mana yang berintegritas tinggi terhadap daerah. Bahkan untuk mendapatkan Caleg yang potensialpundi Indonesia pernah melakukan tes kejiwaan terhadap ratusan Caleg yang mendaftar, seperti yang pernah dilakukan di Kabupaten Cianjur kemarin selama 3 hari digodok oleh Tim Pemeriksa Kesehatan dari Kampus Akademi Perawat Cianjur. Ini merupakan serangkaian prosedur yang seharusnya dilakukan agar para Caleg sebelum dan sesudahnya dapat memperoleh kepribadian yang matang. Hal ini terlihat pada sikap dan pribadi mantan Presiden yang selalu tidak hadir dalam pelantikan Presiden baru, mereka masih mempunyai rasa dendam ketika rivalnya menang dalam pemilihan. Contohnya dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS), seorang mantan calon presiden yang tidak terpilih masih mempunyai hubungan baik dengan rivalnya yang telah terpilih sebagai Presiden. John McCain ketika berkampanye memang kelihatan bermusuhan dengan Barack Obama, tetapi Barack Obama terpilih McCain mengakui keunggulan Obama bahkan tetap mempunyai hubungan baik dan berjanji akan mendukung Obama. Sikap dan pribadi ini yang diharapkan oleh para Caleg di Indonesia yaitu dengan berjiwa besar dalam menghadapi bangsa. Bukan sebaliknya yang banyak terjadi di negeri kita Indonesia sejak masa reformasi dalam pemilihan Bupati, Gubernur, maupun Presiden yang selalu berakhir dengan kekerasan dan keributan. Mungkin ini yang disebut dengan Demo-Crazy, masalah demokrasi memang sangat bergantung pada sikap dan pribadi kita dalam meghadapi masalah. 
Sangat mengharukan lagi jika mantan Caleg yang tidak terpilih dalam kompetisi ini mejadi bulan-bulanan untuk memikirkan perjuangannya dalam bursa politik. Bahkan menjadi beban pikiran yang tak tanggung-tanggung, seperti yang telah dilakukan oleh Mantan Calon Bupati Ponorogo yang telah banyak mengeluarkan materi dan finansial hingga stress berkepanjangan akibat dari gagalnya kompetisi Calon Bupati disaat itu. Ini merupakan suatu contoh hal yang harus kita perhatikan, bagaimana kita harus menyiasati dampak dari bursa politik.
Hal diatas bukan hanya harus diketahui oleh masyarakat pembaca tetapi juga harus diketahui oleh para Caleg yang ingin menghadapi kariernya di dunia politik. Untuk menjadi sosok figur politikpun tidaklah mudah, harus memerlukan strategi-strategi khusus diberbagai macam lini. Dengan itu kita harus mengerti terhadap apa, siapa, dan mengapa kita memilih pilihan kita karena akan dibawa kemana nasib bangsa ini. Kita lihat kedepan siapa yang akan menjadi figur politik, itu yang menentukan nasib daerah dan juga harus diterima dengan dewasa dan lapang dada. Dan maksud dalam menulis opini ini hanya menjadikan refleksi pembaca untuk mengetahui seluk-beluk politis bukan untuk mengintervensi urusan politik. Semoga dalam pemilihan besok akan berjalan dengan baik tanpa ada gangguan dan konflik. Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar