Oleh : Ibnu
Adam, ST., MM
Ramadhan merupakan
bulan agung (syahrun ‘azhim) yang memiliki keistimewaan luar biasa dibanding
bulan-bulan yang lainnya. Sebutan ini dikarenakan bulan Ramadan merupakan
kumpulan momentum terjadinya peristiwa-peristiwa penting. Alquran diturunkan pada
bulan Ramadan, bahkan Kitab Suci Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadan. Diangkatnya Nabi Muhammad
sebagai Rasulullah juga pada bulan Ramadan. Kemenangan-kemenangan besar ummat
Islam dalam peperangan melawan orang-orang kafir senantiasa terjadi di bulan
suci Ramadan, seperti perang Badar Kubra, Perang Khandaq, Hunain dan bahkan
penaklukan (pembebasan) Makkah juga terjadi pada bulan Ramadan. Adanya lailatul
qadar yang mulia, terdapat pada bulan Ramadhan dan dilimpahkannya pahala yang
berlipat ganda kepada hamba-hamba-Nya yang beramal juga pada bukan Ramadan.
Banyak lagi kelebihan bulan Ramadan.
Kehadiran Ramadan merupakan
momentum bagi umat manusia untuk membangun dan mengoreksi diri menuju pribadi
yang lebih baik, dalam istilah agama adalah pribadi yang bertaqwa (muttaqin).
Ramadan adalah waktu yang tepat bagi manusia untuk melakukan revolusi mental.
Selama satu bulan penuh, setiap mukmin ditempa dan dilatih memiliki kualitas
kejiwaan yang jujur, sabar, bertanggung jawab, dan amanah, baik kepada diri
sendiri, orang lain, maupun kepada Allah SWT. Alquran menyebutkan bahwa produk
akhir ibadah puasa adalah manusia-manusia bertakwa (QS Al-Baqarah: 183).
Hal ini mengindikasikan bahwa
ketakwaan merupakan kondisi puncak yang bisa dicapai oleh seseorang melalui
ibadah puasa. Transformasi dan reformasi seseorang ke dalam bentuk pribadi
muttaqin merupakan proses metamorfosis spiritual yang dikehendaki Tuhan.
Predikat muttaqin merupakan prestasi transendental dan transformatif yang tak
terikat materi dan pernik-pernik kemegahan duniawi yang semu. Karena, para
muttaqin mendasarkan kehidupannya hanya kepada keridhaan Tuhan.
Momentum Ramadan ini jadikanlah
usaha untuk merefleksi diri, agar kita bisa membersihkan diri dari dosa dan
dari segala sesuatu yang buruk yang pernah kita lakukan. Dengan puasa, marilah
bertekad untuk mereformasi akhlak secara bersungguh-sungguh.
Ramadan dan
Momentum Pengendalian diri
Puasa pada hakikatnya adalah
pengendalian diri dari segala sikap dan perilaku yang tercela. Menurut Muhammad
Ali Ash-Shabuni, dalam Rawai’ul Bayan, puasa menjadikan orang dapat menahan
diri dari segala keinginan hawa nafsunya seperti korupsi dan manipulasi. Hal
senada juga diungkapkan Muhammad Abduh. Menurutnya menghindari siksa atau
hukuman Allah diperoleh dengan jalan “menghindarkan diri” dari segala yang
dilarangnya serta melaksanakan apa yang diperintahkannya. Jadi intinya, puasa
adalah sebuah ibadah yang strategis dan fungsional untuk dapat mengendalikan
diri dari segala keinginan hawa nafsu yang terlarang dalam syari’ah.
Pengendalian diri yang
diajarkan puasa seharusnya juga dikembangkan secara kreatif dalam kehidupan
sosial sebagai bagian usaha menemukan jati diri bangsa. Di tengah proses
reformasi yang sedang menemukan bentuk idealnya, manusia harus belajar untuk
semakin dapat menahan dan mengendalikan diri sehingga tiap perubahan dan
konflik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak berujung pada kekerasan
dan kerusuhan, tetapi akan menjadi bagian peningkatan hidupnya ke arah yang
lebih baik. Secara spiritual ibadah puasa sebenarnya dapat memberikan
sumbangannya kepada diri, keluarga, daerah dan bangsa untuk menemukan jati
dirinya sebagai bangsa yang berakhlak, beradab, bermartabat dan religius.
Ramadan dan
Spirit Kepemimpinan
Ramadhan sebenarnya membawa
pesan-pesan perubahan, yaitu keharusan meninggalkan sesuatu yang merusak,
tercela atau meninggalkan kondisi yang tidak baik menuju yang baik. Dengan
mengerahkan potensi zikir dan pikir, orang yang berpuasa berusaha tampil dengan
lebih baik. Ramadan ini benar-benar sebagai ujian untuk para pemimpin yang akan
bertarung pada Pemilu 2014 mendatang untuk menentukan nasib bangsa ini lima tahun
ke depan. Janji perubahan yang ditawarkan para pemimpin dan wakil rakyat harus
benar-benar direalisasikan walau secara bertahap.
Momentum Ramadhan merupakan
kesempatan yang baik bagi kita dan para pemimpin untuk melakukan perubahan dan
memperbaiki diri, sebab puasa menurut para ulama, sebagaimana disebut di atas
bukan dimaksudkan untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kesempatan untuk
belajar, yang dalam konteks ini adalah belajar puasa “kekuasaan “. Dengan puasa
kekuasaan, orang kaya bisa memperlakukan diri sebagai si miskin, penguasa bisa
menjadi rakyat jelata, dan manusia bisa bertindak bagai malaikat yang bebas
dari kepentingan duniawi serta kebutuhan seksual.
Ramadhan seharusnya dijadikan
momentum perubahan dan pelayanan yang lebih baik oleh pemerintah sekarang. Tapi
bukan sekedar momentum, tetapi momentum yang berkelanjutan. Momentum yang
terstruktur. Sehingga mampu menjadi efek bola salju, makin lama makin memiliki
kekuatan daya dobrak yang besar. Harapan perubahan itulah yang amat sangat
dirindukan oleh bangsa Indonesia. Tergantung bagaimana para pemimpinnya
menindaklanjuti dengan perilaku, sikap serta kebijakan-kebijakan yang membawa
harapan baru terhadap perubahan yang diinginkan. Yang jelas momentum Ramadhan
sebagai spirit perubahan telah terbuka. Perubahan itulah yang kini menjadi
harapan semua pihak. Orang bijak bertutur, nothing fixed, except the changing, tidak ada yang
abadi, kecuali perubahan itu sendiri. Momentum Ramadan dapat dijadikan sebagai
spirit serta momentum perubahan bagi bangsa dan masyarakat kita.
Spirit
Ramadan sebagai Momentum Perubahan
Spirit ramadhan seharusnya
membangkitkan semangat dan spirit kita untuk mengasah peran batin keagamaan
kita lebih mendalam. Peran batin dan hati nurani harus dioptimalkan dalam
rangka meningkatkan kualitas keagamaan kita. Dalam keadaan apapun suara batin
atau hati nurani akan menunjukkan apa adanya bahkan ketika cahayanya begitu
redup sehingga tidak terlihat lagi pancarannya, akan tetap sadar dan waspada. Namun
seringkali suara hati nurani ini tenggelam dan dikalahkan oleh yang lain karena
kadangkala pertimbangan pemikiran dan pengaruh sosial lebih-lebih nafsu
mendominasi suara hati nurani yang mengumandangkan kebenaran. Ketidakadilan
yang kita amati selama ini sebenarnya kalau boleh dikatakan karena banyak
manusia yang tidak pernah mengungkapkan dan mengatakan apa yang ada dalam hati
nuraninya.
Dengan spirit Ramadan
mudah-mudahan menjadikan hati nurani manusia beragama menjadi terasah dan
tajam serta sensitif terhadap nilai-nilai kebenaran dan prinsip-prinsip hidup
terutama dalam mensikapi gejolak hidup sehari-hari di lingkungan sekitarnya.
Semoga kekuatan Ramadan tahun ini juga mampu membuka mata batin umat beragama
agar mampu mencerna nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan bermakna sehingga menjadikannya
manusia yang bijak dan cerdas, mampu membedakan mana yang patut dipilih dan
mana yang harus ditinggalkannya. Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar