Senantiasa terus belajar, memperbaiki diri dan memberikan kemanfaatan bagi yang lain. Hendaknya kehadiran kita ada sesuatu manfaat yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita, baik itu tenaga, pikiran, materi dll. Tampakkan wajah ceria, murah senyum, tidak sekadar simpati saja, tetapi bagaimana bisa berempati. Berbagi dengan sesama, mengutamakan kepentingan saudaranya, saling berlomba dalam kebaikan dan taqwa.


Sabtu, 05 Juli 2014

Nilai-nilai Ramadan dalam Kehidupan Sosial

Oleh : Ibnu Adam, ST., MM

         Ramadhan merupakan bulan agung (syahrun ‘azhim) yang memiliki keistimewaan luar biasa dibanding bulan-bulan yang lainnya. Sebutan ini dikarenakan bulan Ramadan merupakan kumpulan momentum terjadinya peristiwa-peristiwa penting. Alquran diturunkan pada bulan Ramadan, bahkan Kitab Suci Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadan. Diangkatnya Nabi Muhammad sebagai Rasulullah juga pada bulan Ramadan. Kemenangan-kemenangan besar ummat Islam dalam peperangan melawan orang-orang kafir senantiasa terjadi di bulan suci Ramadan, seperti perang Badar Kubra, Perang Khandaq, Hunain dan bahkan penaklukan (pembebasan) Makkah juga terjadi pada bulan Ramadan. Adanya lailatul qadar yang mulia, terdapat pada bulan Ramadhan dan dilimpahkannya pahala yang berlipat ganda kepada hamba-hamba-Nya yang beramal juga pada bukan Ramadan. Banyak lagi kelebihan bulan Ramadan.

       Kehadiran Ramadan merupakan momentum bagi umat manusia untuk membangun dan mengoreksi diri menuju pribadi yang lebih baik, dalam istilah agama adalah pribadi yang bertaqwa (muttaqin). Ramadan adalah waktu yang tepat bagi manusia untuk melakukan revolusi mental. Selama satu bulan penuh, setiap mukmin ditempa dan dilatih memiliki kualitas kejiwaan yang jujur, sabar, bertanggung jawab, dan amanah, baik kepada diri sendiri, orang lain, maupun kepada Allah SWT. Alquran menyebutkan bahwa produk akhir ibadah puasa adalah manusia-manusia bertakwa (QS Al-Baqarah: 183).
Hal ini mengindikasikan bahwa ketakwaan merupakan kondisi puncak yang bisa dicapai oleh seseorang melalui ibadah puasa. Transformasi dan reformasi seseorang ke dalam bentuk pribadi muttaqin merupakan proses metamorfosis spiritual yang dikehendaki Tuhan. Predikat muttaqin merupakan prestasi transendental dan transformatif yang tak terikat materi dan pernik-pernik kemegahan duniawi yang semu. Karena, para muttaqin mendasarkan kehidupannya hanya kepada keridhaan Tuhan.
Momentum Ramadan ini jadikanlah usaha untuk merefleksi diri, agar kita bisa membersihkan diri dari dosa dan dari segala sesuatu yang buruk yang pernah kita lakukan. Dengan puasa, marilah bertekad untuk mereformasi akhlak secara bersungguh-sungguh.

Ramadan dan Momentum Pengendalian diri
       Puasa pada hakikatnya adalah pengendalian diri dari segala sikap dan perilaku yang tercela. Menurut Muhammad Ali Ash-Shabuni, dalam Rawai’ul Bayan, puasa menjadikan orang dapat menahan diri dari segala keinginan hawa nafsunya seperti korupsi dan manipulasi. Hal senada juga diungkapkan Muhammad Abduh. Menurutnya menghindari siksa atau hukuman Allah diperoleh dengan jalan “menghindarkan diri” dari segala yang dilarangnya serta melaksanakan apa yang diperintahkannya. Jadi intinya, puasa adalah sebuah ibadah yang strategis dan fungsional untuk dapat mengendalikan diri dari segala keinginan hawa nafsu yang terlarang dalam syari’ah.
Pengendalian diri yang diajarkan puasa seharusnya juga dikembangkan secara kreatif dalam kehidupan sosial sebagai bagian usaha menemukan jati diri bangsa. Di tengah proses reformasi yang sedang menemukan bentuk idealnya, manusia harus belajar untuk semakin dapat menahan dan mengendalikan diri sehingga tiap perubahan dan konflik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak berujung pada kekerasan dan kerusuhan, tetapi akan menjadi bagian peningkatan hidupnya ke arah yang lebih baik. Secara spiritual ibadah puasa sebenarnya dapat memberikan sumbangannya kepada diri, keluarga, daerah dan bangsa untuk menemukan jati dirinya sebagai bangsa yang berakhlak, beradab, bermartabat dan religius.

Ramadan dan Spirit Kepemimpinan
    Ramadhan sebenarnya membawa pesan-pesan perubahan, yaitu keharusan meninggalkan sesuatu yang merusak, tercela atau meninggalkan kondisi yang tidak baik menuju yang baik. Dengan mengerahkan potensi zikir dan pikir, orang yang berpuasa berusaha tampil dengan lebih baik. Ramadan ini benar-benar sebagai ujian untuk para pemimpin yang akan bertarung pada Pemilu 2014 mendatang untuk menentukan nasib bangsa ini lima tahun ke depan. Janji perubahan yang ditawarkan para pemimpin dan wakil rakyat harus benar-benar direalisasikan walau secara bertahap.
       Momentum Ramadhan merupakan kesempatan yang baik bagi kita dan para pemimpin untuk melakukan perubahan dan memperbaiki diri, sebab puasa menurut para ulama, sebagaimana disebut di atas bukan dimaksudkan untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kesempatan untuk belajar, yang dalam konteks ini adalah belajar puasa “kekuasaan “. Dengan puasa kekuasaan, orang kaya bisa memperlakukan diri sebagai si miskin, penguasa bisa menjadi rakyat jelata, dan manusia bisa bertindak bagai malaikat yang bebas dari kepentingan duniawi serta kebutuhan seksual.
Ramadhan seharusnya dijadikan momentum perubahan dan pelayanan yang lebih baik oleh pemerintah sekarang. Tapi bukan sekedar momentum, tetapi momentum yang berkelanjutan. Momentum yang terstruktur. Sehingga mampu menjadi efek bola salju, makin lama makin memiliki kekuatan daya dobrak yang besar. Harapan perubahan itulah yang amat sangat dirindukan oleh bangsa Indonesia. Tergantung bagaimana para pemimpinnya menindaklanjuti dengan perilaku, sikap serta kebijakan-kebijakan yang membawa harapan baru terhadap perubahan yang diinginkan. Yang jelas momentum Ramadhan sebagai spirit perubahan telah terbuka. Perubahan itulah yang kini menjadi harapan semua pihak. Orang bijak bertutur, nothing fixed, except the changing, tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri. Momentum Ramadan dapat dijadikan sebagai spirit serta momentum perubahan bagi bangsa dan masyarakat kita.

Spirit Ramadan sebagai Momentum Perubahan
       Spirit ramadhan seharusnya membangkitkan semangat dan spirit kita untuk mengasah peran batin keagamaan kita lebih mendalam. Peran batin dan hati nurani harus dioptimalkan dalam rangka meningkatkan kualitas keagamaan kita. Dalam keadaan apapun suara batin atau hati nurani akan menunjukkan apa adanya bahkan ketika cahayanya begitu redup sehingga tidak terlihat lagi pancarannya, akan tetap sadar dan waspada. Namun seringkali suara hati nurani ini tenggelam dan dikalahkan oleh yang lain karena kadangkala pertimbangan pemikiran dan pengaruh sosial lebih-lebih nafsu mendominasi suara hati nurani yang mengumandangkan kebenaran. Ketidakadilan yang kita amati selama ini sebenarnya kalau boleh dikatakan karena banyak manusia yang tidak pernah mengungkapkan dan mengatakan apa yang ada dalam hati nuraninya.
Dengan spirit Ramadan mudah-mudahan menjadikan hati nurani manusia beragama menjadi  terasah dan tajam serta sensitif terhadap nilai-nilai kebenaran dan prinsip-prinsip hidup terutama dalam mensikapi gejolak hidup sehari-hari di lingkungan sekitarnya. Semoga kekuatan Ramadan tahun ini juga mampu membuka mata batin umat beragama agar mampu mencerna nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan bermakna sehingga menjadikannya manusia yang bijak dan cerdas, mampu membedakan mana yang patut dipilih dan mana yang harus ditinggalkannya. Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar