Senantiasa terus belajar, memperbaiki diri dan memberikan kemanfaatan bagi yang lain. Hendaknya kehadiran kita ada sesuatu manfaat yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita, baik itu tenaga, pikiran, materi dll. Tampakkan wajah ceria, murah senyum, tidak sekadar simpati saja, tetapi bagaimana bisa berempati. Berbagi dengan sesama, mengutamakan kepentingan saudaranya, saling berlomba dalam kebaikan dan taqwa.


Selasa, 17 Juni 2014

Hegemoni Popularitas

Oleh : Siti Siamah (Peneliti Data Global Reform Yogyakarta)     


       Di ranah politik, popularitas sangat penting. Karena itu, popularitas kemudian menjelma menjadi hegemoni: Yang terpopuler yang paling berpengaruh dan menjadi rebutan partai. Berarti pula berpotensi untuk meraih tampuk kekuasaan (yang didukung rakyat) dalam sistem demokrasi. Namun, popularitas tidak datang dari langit, melainkan datang dari respons publik. Sedangkan kunci utama untuk meraih popularitas adalah mendapat dukungan media yang diperhatikan publik. Dengan kata lain, andai ada yang merekayasa popularitas pasti akan sia-sia jika tidak mendapat dukungan media dan respons positif dari publik. Ibarat membual, tak ada artinya. 

      Di era modern ini, media menjadi alat terpenting untuk meraih popularitas, bahkan faktanya media juga sering menentukan popularitas figur dan partai. Atau lebih gamblangnya, hegemoni media menentukan hegemoni popularitas. Oleh karena itu, jika media konvensional (cetak dan elektronik) tak bisa digunakan, lantas ada yang mencoba menggunakan media alternatif seperti survei yang memang nyata-nyata melibatkan respons publik, meski sangat terbatas jumlahnya.Namun diakui, hegemoni media konvensional atas media alternatif seperti survei dalam membantu figur dan partai untuk meraih popularitas tak terbantahkan, karena banyak buktinya. Misalnya, satu bukti hegemoni media konvensional dalam mempopulerkan figur bisa dilihat dari popularitas Jokowi sejak menjadi Walikota Surakarta hingga Gubernur DKI Jakarta. Betapa setiap hari media konvensional memberitakannya dan jadilah ia sangat populer. Karena itu, jika suatu ketika muncul media alternatif seperti survei yang mencoba mempopulerkan figur lain untuk mengalahkan popularitas Jokowi serta merta diragukan banyak pihak.

       Dengan kata lain, figur yang didukung media konvensional dalam meraih popularitas tidak bisa dikalahkan figur lain yang menggunakan media alternatif seperti survei dalam meraih popularitas. Karena itu, kalau ada figur yang ingin menjadi yang paling populer, mau tidak mau harus mencari dukungan media konvensional, tidak melulu menggunakan media alternatif seperti survei. Cuma masalahnya, media konvensional cenderung sulit dimanfaatkan untuk meraih popularitas figur yang nyata-nyata tidak banyak mendapat dukungan publik, sehingga sering ada figur yang kemudian terpaksa menggunakan media alternatif seperti survei untuk meraih popularitas.

       Menguasai Media Di Indonesia, akibat hegemoni popularitas sangat penting di ranah politik, akhirnya muncul beberapa figur yang mencoba meraih popularitas dengan cara menguasai media. Seperti Surya Paloh menguasai Media Grup, Hary Tanoesoedibjo menguasai MNC Grup dan Aburizal Bakrie menguasai Viva Grup. Ketiga figur bersebut kini sedang bersaing menjadi yang paling populer dengan menggunakan media masing-masing yang dikuasainya. Selain itu, ketiganya juga didukung media alternatif seperti survei untuk mendongkrak popularitas.
 

     Kini, setiap saat publik dapat menyaksikan persaingan ketiganya dalam merebut popularitas dengan memanfaatkan medianya masing- masing. Namun, di negeri ini ada juga media konvensional lain yang tidak dikuasai ketiganya, yang ternyata tampak selalu kompak mendukung figur lain (Jokowi) untuk meraih popularitas. Akibatnya, Jokowi tetap saja paling populer.Hegemoni popularitas di ranah politik, bisa dianggap sebagai bahaya laten, jika sudah melahirkan rekayasa-rekayasa pragmatis untuk mendongkrak popularitas. Dalam hal ini, figur-figur yang hendak bertarung memperebutkan tampuk kekuasaan bisa saja merekayasa popularitasnya dengan berbagai cara dadakan yang sama sekali tidak bermanfaat bagi bangsa dan negara. Misalnya, bagi yang tidak menguasai media konvensional maupun media alternatif, cara untuk merekayasa popularitas mungkin bisa dengan memproduksi berita-berita hangat dengan menggelar acara seperti konvensi calon presiden. Memang, berita politik terhangat yang terus menerus dirilis media bisa menarik perhatian publik, sehingga figur-figur dan partai yang diberitakan serta merta menjadi semakin populer. Begitulah, rekayasa popularitas memang hak semua orang, asalkan tidak dengan menyerang popularitas pihak lain. Meski demikian, ternyata ada juga yang mencoba melakukan menyerangan untuk merusak popularitas seorang figur. Akibatnya, figur yang hendak dirusak popularitasnya justru makin populer, karena ba nyak media dan publik yang bersimpati dan membelanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar