Senantiasa terus belajar, memperbaiki diri dan memberikan kemanfaatan bagi yang lain. Hendaknya kehadiran kita ada sesuatu manfaat yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita, baik itu tenaga, pikiran, materi dll. Tampakkan wajah ceria, murah senyum, tidak sekadar simpati saja, tetapi bagaimana bisa berempati. Berbagi dengan sesama, mengutamakan kepentingan saudaranya, saling berlomba dalam kebaikan dan taqwa.


Kamis, 16 Januari 2014

Tahun 2014 Selayaknya Jadi Momen Refleksi Kepemimpinan


Oleh : Prof. Dr. Edy Suandy Hamid, M.Ec
(Guru Besar Universitas Gajah Mada dan Rektor Universitas Islam Indonesia)


Memasuki tahun 2014, dalam waktu dekat Indonesia akan memasuki masa pergantian kepemimpinan yang ditandai dengan diselenggarakannya Pemilu baik di tingkat legislatif maupun eksekutif. Sedangkan di lingkup lokal, civitas akademika UII juga akan menyaksikan dan mengikuti momen pergantian kepemimpinan Rektor sebagai pimpinan universitas. Kedua hal tersebut memiliki benang merah yang patut disikapi dengan cermat. Sebab masalah kepemimpinan adalah sebuah hal yang mendapat perhatian serius dalam Islam di mana seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari kecakapan ilmu atau kualifikasinya semata namun juga dituntut memiliki keteladanan moral dan agama yang baik.Seperti dikatakan oleh Rektor UII, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec ketika menyampaikan khotbah Jum’at di hadapan jamaah yang memadati Masjid Ulil Albab, kampus terpadu UII pada Jum’at siang (3/1). Dalam khotbahnya, Prof. Edy menyoroti aspek kepemimpinan yang menurutnya memiliki nilai yang penting dalam pembangunan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, yang juga tidak terlepas dari lingkup UII.
Prof. Edy memaparkan bahwa sebenarnya Indonesia dikaruniai oleh banyak kelebihan, seperti potensi sumber daya alam yang melimpah dan juga potensi sumber daya manusianya yang mumpuni. Namun demikian, pada kenyataannya segenap potensi tersebut tidak lantas mampu mengangkat derajad Indonesia menjadi sejajar dengan negara-negara terkemuka di dunia. Justru, dalam beberapa aspek, Indonesia masih terpuruk dan tertinggal dengan negara tetangganya seperti Malaysia dan Singapura.“Malaysia mempunyai sosok seperti Mahatir Mohammad yang mampu mengangkat martabat negara itu. Sedang Singapura beruntung karena punya sosok Lee Kuan Yeuw. Sayangnya, Indonesia masih lemah dalam hal kepemimpinan”, ungkap Prof. Edy. Menurutnya, masalah kepemimpinan inilah yang membuat potensi berlimpah yang dimiliki Indonesia tidak termaksimalkan dengan baik.
Prof. Edy melanjutkan pemimpin itu identik dengan dua hal, yaitu jabatan dan amanah. “Islam mengajarkan, pemimpin yang baik itu bukan orang yang meminta-minta atau mencari jabatan. Sebaliknya, ia adalah sosok yang ketika diserahi jabatan, menganggapnya sebagai amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya”, tandasnya. Hal ini sesuai dengan teladan kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya.Terkait dengan momen pergantian kepemimpinan di UII yang akan berlangsung, Prof. Edy berharap agar pemimpin yang nantinya terpilih dapat mengemban amanah dengan penuh tanggungjawab. “Ke depan, pemimpin UII dituntut untuk dapat menempatkan UII sebagai universitas terkemuka yang patut diperhitungkan baik di kancah nasional maupun internasional”, tuturnya. Ia juga menekankan pentingnya upaya peningkatan kontribusi UII bagi bangsa, negara, dan umat dalam berbagai aspek sesuai dengan visi UII rahmatan lil alamin.

Kamis, 02 Januari 2014

Refleksi Politik Menghadapi Pemilu

Oleh : Ibnu Adam, ST., MM


       Masa kampanye terbuka menjelang pemilihan umum calon legislatif 9 April 2009, tepatnya Minggu 15 Maret 2009 kampanye baru mulai berlangsung. Namun, "banjir" spanduk dan pamflet yang terpampang di berbagai tempat di Kota-kota sudah lama terjadi. Malah, kian hari jumlah reklame "narsis" berbagai ukuran itu pun kian banyak "mengotori" pemandangan Kota, hingga ke gang-gang sempit. Tak tanggung-tanggung, terkadang pada satu tempat dipasang lebih dari lima calon yang berbeda. Ukurannya juga beragam, mulai ukuran kecil yang dipaku di pohon atau diikat di tiang-tiang listrik, hingga yang luar biasa besar, yang terpasang kokoh dengan fondasi permanen di jalan-jalan besar. Uang yang dihabiskan pun tentu tak sedikit karena mencapai ratusan juta rupiah. Namun masyarakat hingga saat ini masih bingung menentukan pilihan Partai Politik (Parpol) atau Calon Legislatif (Caleg) favoritnya, dikarenakan banyaknya Parpol dan Caleg yang ada.

Apakah dari spanduk/pamflet yang terpampang banyak dan besar ini akan mempengaruhi putusan dari pemilik hak suara? Tentu saja tidak, dari sekian banyak spanduk/pamflet yang dipasang diberbagai tempat ternyata hanya diindahkan oleh sesama Caleg yang jadi pesaingnya tetapi lebih efektif turun ke masyarakat untuk bersosialisasi, karena spanduk/pamflet itu hanya saingan sesama Caleg. Strategi “perang” di udara alias memasang banyak spanduk diberbagai tempat dengan memamerkan wajah narsis inipun juga cara yang efektif untuk memastikan nama dan siapa yang harus dicontreng. Bukan hanya wajah narsis tetapi dengan spanduk yang unik dan kreatif juga akan efektif dalam kompetisi pemilihan Caleg mendatang. Selain itu Caleg juga harus memiliki pengalaman atau track record dalam berorganisasi baik di dunia akademisi maupun politik.
Masyarakat sebagai pemilih harus tahu Caleg yang berintegritas tinggi, bukan hanya Caleg yang berani membayar dengan uang (money politic). Strategi Caleg untuk memperoleh suara terbanyak sangat beragam seperti dengan berani membayar dengan uang agar dapat menempati urutan pertama pada sebuah partai, sehingga mereka mempunyai peluang untuk terpilih sebagai anggota DPR/DPRD, karena dapat mengeliminasi calon-calon legislatif secara instant. Dikhawatirkan jika Caleg yang instant tidak bisa mengemban amanah yang telah diberikan oleh rakyat, sehingga ketika duduk di DPR/DPRD tidak lagi berkonsentrasi memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakili, tetapi hanya ingin memperoleh kembali finansial yang telah dikeluarkan dimasa kampanye bahkan menjadi motivasi negatif sebagai anggota DPR/DPRD di masa menjabat. Oleh karena itu masyarakat harus benar-benar jeli dalam memilih Calegnya yang mana mampu memberikan pencerahan terhadap masa depan, karena setiap Caleg berdiri paling depan dalam mempertahankan NKRI, UUD 1945 maupun Pancasila sebagai harga mati, dan juga Indonesia memiliki kemajemukan yang hendaknya memandang perbedaan sebagai tujuan untuk saling mengenal. Caleg yang mempunyai sikap demikian tidak bisa datang dengan tiba-tiba, tetapi mereka harus mendapatkan pelatihan yang cukup dan dilakukan secara kontinu oleh partainya. Bukan seperti mengikuti pelatihan atau workshop kompetensi Caleg yang pernah ada akhir-akhir ini di salahsatu Perguruan Tinggi di Solo, Jawa Tengah. Caleg harus sejalan dengan prestasi organisasi, baik organisasi umum maupun partai dan juga harus sesuai dengan visi dan misi dari partai yang dipegangnya bukan hanya partai hanya sebagai sarana untuk memasuki dunia politik. Saat ini memang banyak yang mengikuti ajang pemilihan bursa Caleg dan saat ini juga masyarakat harus tahu mana yang berintegritas tinggi terhadap daerah. Bahkan untuk mendapatkan Caleg yang potensialpundi Indonesia pernah melakukan tes kejiwaan terhadap ratusan Caleg yang mendaftar, seperti yang pernah dilakukan di Kabupaten Cianjur kemarin selama 3 hari digodok oleh Tim Pemeriksa Kesehatan dari Kampus Akademi Perawat Cianjur. Ini merupakan serangkaian prosedur yang seharusnya dilakukan agar para Caleg sebelum dan sesudahnya dapat memperoleh kepribadian yang matang. Hal ini terlihat pada sikap dan pribadi mantan Presiden yang selalu tidak hadir dalam pelantikan Presiden baru, mereka masih mempunyai rasa dendam ketika rivalnya menang dalam pemilihan. Contohnya dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS), seorang mantan calon presiden yang tidak terpilih masih mempunyai hubungan baik dengan rivalnya yang telah terpilih sebagai Presiden. John McCain ketika berkampanye memang kelihatan bermusuhan dengan Barack Obama, tetapi Barack Obama terpilih McCain mengakui keunggulan Obama bahkan tetap mempunyai hubungan baik dan berjanji akan mendukung Obama. Sikap dan pribadi ini yang diharapkan oleh para Caleg di Indonesia yaitu dengan berjiwa besar dalam menghadapi bangsa. Bukan sebaliknya yang banyak terjadi di negeri kita Indonesia sejak masa reformasi dalam pemilihan Bupati, Gubernur, maupun Presiden yang selalu berakhir dengan kekerasan dan keributan. Mungkin ini yang disebut dengan Demo-Crazy, masalah demokrasi memang sangat bergantung pada sikap dan pribadi kita dalam meghadapi masalah. 
Sangat mengharukan lagi jika mantan Caleg yang tidak terpilih dalam kompetisi ini mejadi bulan-bulanan untuk memikirkan perjuangannya dalam bursa politik. Bahkan menjadi beban pikiran yang tak tanggung-tanggung, seperti yang telah dilakukan oleh Mantan Calon Bupati Ponorogo yang telah banyak mengeluarkan materi dan finansial hingga stress berkepanjangan akibat dari gagalnya kompetisi Calon Bupati disaat itu. Ini merupakan suatu contoh hal yang harus kita perhatikan, bagaimana kita harus menyiasati dampak dari bursa politik.
Hal diatas bukan hanya harus diketahui oleh masyarakat pembaca tetapi juga harus diketahui oleh para Caleg yang ingin menghadapi kariernya di dunia politik. Untuk menjadi sosok figur politikpun tidaklah mudah, harus memerlukan strategi-strategi khusus diberbagai macam lini. Dengan itu kita harus mengerti terhadap apa, siapa, dan mengapa kita memilih pilihan kita karena akan dibawa kemana nasib bangsa ini. Kita lihat kedepan siapa yang akan menjadi figur politik, itu yang menentukan nasib daerah dan juga harus diterima dengan dewasa dan lapang dada. Dan maksud dalam menulis opini ini hanya menjadikan refleksi pembaca untuk mengetahui seluk-beluk politis bukan untuk mengintervensi urusan politik. Semoga dalam pemilihan besok akan berjalan dengan baik tanpa ada gangguan dan konflik. Wassalam.