Oleh : Ibnu Adam, ST., MM
Sebagai seorang muslim, begitu
kita bicara tentang kepemimpinan maka jiwa dan pikiran kita langsung terkait
dengan junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sebagai suri teladan (uswatun
khasanah) dalam sikap dan perilakunya sebagai pemimpin.
Sejak dulu Islam bicara tentang
imam terkait dengan makmum, sedangkan dalam pengetahuan manajemen modern, baru
belakangan saja bahwa masalah inti kepemimpinan adalah hubungan antara pemimpin
dan pengikutnya dalam ilmu manajemen banyak sekali pengertian dan definisi dari
kepemimpinan. Demikian pula banyak sekali pengertian tentang kepemimpinan dalam
Islam. Dalam konteks ini Nabi bersabda : Pemimpin/Imam diangkat tidak lain
kecuali untuk diteladani (diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Abu Hurairah).
Keteladanan dalam bentuk tingkah laku ini dimaksudkan untuk dapat mengantar
pihak lain mengikuti apa yang dilakukan oleh pemimpin, sehingga dari sini
kepemimpinan berarti upaya mempengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang
dilakukan oleh pemimpin. Dari sini dapat dipaham mengapa Islam menekankan kepada
pemimpin untuk tampil melakukan sesuatu terlebih dahulu, baru kemudian
mendorong yang dipimpin untuk melakukannya, karena kepemimpinan adalah usaha
mengajak oranglain melakukan sesuatu, maka sesuatu itu harus dapat dipahami.
Bahkan kalau dapat dirasakan sebagai milik dari semua yang diajak itu, maka
kegiatan musyawarah ditekankan untuk selalu dilakukan oleh pemimpin.
Dalam Islam masalah kepemimpinan
ada syarat-syaratnya, berarti ada seleksi, tidak bisa setiap orang merasa
dirinya pantas menjadi pemimpin. Proses seleksi itu tergantung menjadi pemimpin
apa? Keahlian dalam memimpin adalah “Intangible”, sulit diukur dan diuraikan.
Maka James Mac Gregor Burns menyatakan bahwa kepemimpinan adalah sesuatu yang
sering kita temukan tetapi sedikit sekali kita pahami (leadership is one of the
most observed but the least understood phenomena on earth).
Secara sederhana dapat dilihat
bahwa inti proses kepemimpinan adalah : (1), Establish Direction, membangun
visi masa depan jangka pendek dan jangka panjang, bersama dengan strategi dalam
menghasilkan perubahan dan kemajuan, (2). Aligning People, menyatukan langkah
dan gerak pengikutnya dengan mengkomunikasikan arah danuntuk visi itu kepada anggotanya, dan (3). Motivating
and Inspiring, mendorong dan memberikan inspirasi orang lain untuk maju. Selain itu
kepemimpinan dilandasi dengan proses-proses manajemen seperti planning,
organizing, dan staffing, controlling dan problem solving.
Johm W. Gardner dalam “On
Leadership” (New York : Press-Mc Millan, 1990), mendefinisikan kepemimpinan
merupakan proses persuasif atau dimana individu atau sekelompok orang memasuki
organisasi besar akan mampu mempengaruhi pimpinan atau membuka nilai baru
terhadap pimpinan dan pengikutnya. Saat terakhir ini kepemimpinan merupakan
proses perubahan, karena saat ini pengikut atau yang dipimpin makin tingi
pendidikannya. Tidak ada solusi yang baku untuk menjadi pemimpin yang baik
(there is no standart solution to becoming a good leader).
Namun pemahaman mendasar tentang perilaku
manusia merupakan syarat penting menjadi pemimpin yang baik dan kepemimpinan
tidak dapat dpelajari melalui teori manajemen atau psikologi saja, melainkan
harus ditumbuhkembangkan melalui pengalaman secara teratur dan sistematis.
Profil Pemimpin
Secara teoritis ada dua pandangan
yang berbeda sejak dahulu tentang mencetak pemimpin. Teori pertama beranggapan
bahwa pemimpin tidak dilahirkan, tetapi diciptakan (leaders are not born but made).
Teori selanjutnya kepemimpinan tampaknya pandangan bahwa seorang pemimpin
membawa sifat-sifat kepemimpinan sejak lahir telah kurang mendapat dukungan
dalam praktik. Anggapan-anggapan teori tersebut dapat dibenarkan tetapi
realitanya diolah dengan pendidikan dan latihan beberapa ilmu agar kepemimpinan
itu dapat ditumbuhkembangkan.
Dalam Islam, paling tidak ada dua
kata yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk kepada kepemimpinan yaitu : Imam
dan Khalifah. At-Tabrasy dalam tafsirnya mengemukakan bahwa kata imam mempunyai
makna sama dengan khalifah. Hanya saja kata imam digunakan untuk keteladanan,
karena ia terambil dari kata yang mengandung arti depan, berbeda dengan
khalifah yang diambil dari kata belakang. Keberadaan di “belakang” menjadikan
seorang pemimpin harus mengikuti sesuatu yang didepannya. Dalam hal ini yang
mengangkat menjadi khalifah yaitu Allah, serta mengikuti kepentingan dan
kehendak umat yang dipimpin dan memilihnya. Dari sini juga dipahami bahwa
kepemimpinan adalah amanat dari Allah dan dari yang dipimpin.
Keberadaan seseorang sebagai imam
atau pemimpin mengandung arti keteladanan, yaitu dituntut untuk tampil ke depan
memberi contoh serta bertanggungjawab atas yang dipimpin. Memang kenyataannya
sangat sulit untuk menjalankan amanat sebagai pemimpin, terutama untuk berbuat
adil, karena lawan dari keadilan adalah penganiayaan. Sehingga beberapa sifat
penting dari pemimpin yaitu, sifat adil, baik terhadap diri, keluarga, manusia,
lingkungan, maupun terhadap Allah SWT.
Adapun sifat-sifat pemimpin ideal
sesuai dengan kriteria sifat para Nabi, antara lain : (1). Ash-Shidiq, sifat
ini bukan hanya berarti kebenaran dalam dalam bercakap tetapi juag kesungguhan
dalam mengajak dan memimpin, (2). Al-Fathanah, bukan hanya berarti kemampuan
ilmiah, tetapi kecerdasan menghadapi situasi yang sulit serta kemampuan
mengatasinya, (3). At-Tabligh, merupakan bukan hanya sekedar menyampaikan apa
yang diperintahkan, tetapi juga tidak menyembunyikan sesuatu yang seharusnya
diketahui oleh yang dipimpinnya, atau dengan kata sifat ini mengharuskan adanya
keterbukaan dari pemimpin, dan (4) Al-Amanah, yakni kepercayaan dari yang
memberi kepemimpinan sekaligus amanat di dalam melaksanakan tugas-tugas
kepemimpinan.
Share Values
Dalam kepemimpinan, terdapat strategi
manajemen yang dikenal dengan istilah corporate culture, organizational culture
atau share values. Hal ini merupakan kekuatan dan kelemahan dari suatu
organisasi. Budaya dan nilai itu dapat dianggap sebagai pola perilaku dari
organisasi dan anggotanya dalam menghadapi eksternal adaption dan internal
integration. Budaya atau nilai juga menjadi pola pikir dan pola perasaan
manusia yang ada dalam organisasi atau masyarakat. Beberapa dimensi organisasi
tampak ada 6 dimensi pokok, yaitu : (1). Strategy, (2). Structure, (3). Skill,
(4). Staff, (5). Style, dan (6). System. Keenam dimensi tersebut terkait dengan
dimensi shared values.
Pada awal revolusi industri banyak
manajemen modern cenderung mengabaikan nilai dan budaya, sehingga pemimpin atau
manajer hanya meningkatkan produksi dan pekerja hanya sebagai alat produksi.
Pendekatan saat ini “more human”, maka peranan shared values dalam proses
influence, persuasion atau encouragement amat penting dalam memotivasi anak
buah dan masyarakat.
Kemampuan kepemimpinan untuk
mengkomunikasikan shared values dari organisasinya secara luas dan mendalam
kepada anak buah, akan dapat mendorong tercapainya kesuksesan organisasi dan
kepemimpinannya. Share values merupakan suatu seni dari seorang pemimpin untuk
membuka nilai dan norma serta budaya dasar dari organisasi yang dipimpinnya.
Kalau pemimpin dan yang dipimpin
sama-sama berpegang kepada share values atau organizational culture, yang
bersumber dari wahyu ilahi, tentu saja kita yakin bahwa organisasi atau
masyarakat itu akan sukses. Kalo ternyata gagal, tentu ada factor non rasional
yang harus dievaluasi. Dalam pandangan global, budaya itu bervariasi dalam 2
bentuk : (1). High Context Culture, seperti Jepang lebih mementingkan siapa dan
bagaimana orangnya daripada katanya, dan (2). Low Context Culture, seperti
Jerman, Swiss, Amerika, lebih mementingkan apa katanya dari pada siapa dan bagaimana. Bangsa Arab/Islam dikategorikan
ditengah. Mungkin dapat kita artikan, bagi muslim kedua-duanya penting.
Dengan kajian kepemimpinan ini diharapkan kepada para aktivis dan pejabat-pejabat di berbagai institusi maupun perusahaan dapat mengubah budaya menjadi kepemimpinan yang seideal mungkin agar dapat memanfaatkan kekuatan dan menghilangkan kelemahan budaya di saat ini terutama dalam menyambut visi dan misi dari perubahan yang ada dalam membangun daerah kita yang baru. Wassalam.