Senantiasa terus belajar, memperbaiki diri dan memberikan kemanfaatan bagi yang lain. Hendaknya kehadiran kita ada sesuatu manfaat yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita, baik itu tenaga, pikiran, materi dll. Tampakkan wajah ceria, murah senyum, tidak sekadar simpati saja, tetapi bagaimana bisa berempati. Berbagi dengan sesama, mengutamakan kepentingan saudaranya, saling berlomba dalam kebaikan dan taqwa.


Jumat, 22 Juni 2012

Kajian Kepemimpinan Ideal


Oleh : Ibnu Adam, ST., MM

Sebagai seorang muslim, begitu kita bicara tentang kepemimpinan maka jiwa dan pikiran kita langsung terkait dengan junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sebagai suri teladan (uswatun khasanah) dalam sikap dan perilakunya sebagai pemimpin.

Sejak dulu Islam bicara tentang imam terkait dengan makmum, sedangkan dalam pengetahuan manajemen modern, baru belakangan saja bahwa masalah inti kepemimpinan adalah hubungan antara pemimpin dan pengikutnya dalam ilmu manajemen banyak sekali pengertian dan definisi dari kepemimpinan. Demikian pula banyak sekali pengertian tentang kepemimpinan dalam Islam. Dalam konteks ini Nabi bersabda : Pemimpin/Imam diangkat tidak lain kecuali untuk diteladani (diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Abu Hurairah). Keteladanan dalam bentuk tingkah laku ini dimaksudkan untuk dapat mengantar pihak lain mengikuti apa yang dilakukan oleh pemimpin, sehingga dari sini kepemimpinan berarti upaya mempengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang dilakukan oleh pemimpin. Dari sini dapat dipaham mengapa Islam menekankan kepada pemimpin untuk tampil melakukan sesuatu terlebih dahulu, baru kemudian mendorong yang dipimpin untuk melakukannya, karena kepemimpinan adalah usaha mengajak oranglain melakukan sesuatu, maka sesuatu itu harus dapat dipahami. Bahkan kalau dapat dirasakan sebagai milik dari semua yang diajak itu, maka kegiatan musyawarah ditekankan untuk selalu dilakukan oleh pemimpin.

Dalam Islam masalah kepemimpinan ada syarat-syaratnya, berarti ada seleksi, tidak bisa setiap orang merasa dirinya pantas menjadi pemimpin. Proses seleksi itu tergantung menjadi pemimpin apa? Keahlian dalam memimpin adalah “Intangible”, sulit diukur dan diuraikan. Maka James Mac Gregor Burns menyatakan bahwa kepemimpinan adalah sesuatu yang sering kita temukan tetapi sedikit sekali kita pahami (leadership is one of the most observed but the least understood phenomena on earth).

Secara sederhana dapat dilihat bahwa inti proses kepemimpinan adalah : (1), Establish Direction, membangun visi masa depan jangka pendek dan jangka panjang, bersama dengan strategi dalam menghasilkan perubahan dan kemajuan, (2). Aligning People, menyatukan langkah dan gerak pengikutnya dengan mengkomunikasikan arah danuntuk  visi itu kepada anggotanya, dan (3). Motivating and Inspiring, mendorong dan memberikan inspirasi  orang lain untuk maju. Selain itu kepemimpinan dilandasi dengan proses-proses manajemen seperti planning, organizing, dan staffing, controlling dan problem solving.

Johm W. Gardner dalam “On Leadership” (New York : Press-Mc Millan, 1990), mendefinisikan kepemimpinan merupakan proses persuasif atau dimana individu atau sekelompok orang memasuki organisasi besar akan mampu mempengaruhi pimpinan atau membuka nilai baru terhadap pimpinan dan pengikutnya. Saat terakhir ini kepemimpinan merupakan proses perubahan, karena saat ini pengikut atau yang dipimpin makin tingi pendidikannya. Tidak ada solusi yang baku untuk menjadi pemimpin yang baik (there is no standart solution to becoming a good leader).
Namun pemahaman mendasar tentang perilaku manusia merupakan syarat penting menjadi pemimpin yang baik dan kepemimpinan tidak dapat dpelajari melalui teori manajemen atau psikologi saja, melainkan harus ditumbuhkembangkan melalui pengalaman secara teratur dan sistematis.
            

Profil Pemimpin 

Secara teoritis ada dua pandangan yang berbeda sejak dahulu tentang mencetak pemimpin. Teori pertama beranggapan bahwa pemimpin tidak dilahirkan, tetapi diciptakan (leaders are not born but made). Teori selanjutnya kepemimpinan tampaknya pandangan bahwa seorang pemimpin membawa sifat-sifat kepemimpinan sejak lahir telah kurang mendapat dukungan dalam praktik. Anggapan-anggapan teori tersebut dapat dibenarkan tetapi realitanya diolah dengan pendidikan dan latihan beberapa ilmu agar kepemimpinan itu dapat ditumbuhkembangkan.

Dalam Islam, paling tidak ada dua kata yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk kepada kepemimpinan yaitu : Imam dan Khalifah. At-Tabrasy dalam tafsirnya mengemukakan bahwa kata imam mempunyai makna sama dengan khalifah. Hanya saja kata imam digunakan untuk keteladanan, karena ia terambil dari kata yang mengandung arti depan, berbeda dengan khalifah yang diambil dari kata belakang. Keberadaan di “belakang” menjadikan seorang pemimpin harus mengikuti sesuatu yang didepannya. Dalam hal ini yang mengangkat menjadi khalifah yaitu Allah, serta mengikuti kepentingan dan kehendak umat yang dipimpin dan memilihnya. Dari sini juga dipahami bahwa kepemimpinan adalah amanat dari Allah dan dari yang dipimpin.

Keberadaan seseorang sebagai imam atau pemimpin mengandung arti keteladanan, yaitu dituntut untuk tampil ke depan memberi contoh serta bertanggungjawab atas yang dipimpin. Memang kenyataannya sangat sulit untuk menjalankan amanat sebagai pemimpin, terutama untuk berbuat adil, karena lawan dari keadilan adalah penganiayaan. Sehingga beberapa sifat penting dari pemimpin yaitu, sifat adil, baik terhadap diri, keluarga, manusia, lingkungan, maupun terhadap Allah SWT.

Adapun sifat-sifat pemimpin ideal sesuai dengan kriteria sifat para Nabi, antara lain : (1). Ash-Shidiq, sifat ini bukan hanya berarti kebenaran dalam dalam bercakap tetapi juag kesungguhan dalam mengajak dan memimpin, (2). Al-Fathanah, bukan hanya berarti kemampuan ilmiah, tetapi kecerdasan menghadapi situasi yang sulit serta kemampuan mengatasinya, (3). At-Tabligh, merupakan bukan hanya sekedar menyampaikan apa yang diperintahkan, tetapi juga tidak menyembunyikan sesuatu yang seharusnya diketahui oleh yang dipimpinnya, atau dengan kata sifat ini mengharuskan adanya keterbukaan dari pemimpin, dan (4) Al-Amanah, yakni kepercayaan dari yang memberi kepemimpinan sekaligus amanat di dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan.
   

Share Values 

Dalam kepemimpinan, terdapat strategi manajemen yang dikenal dengan istilah corporate culture, organizational culture atau share values. Hal ini merupakan kekuatan dan kelemahan dari suatu organisasi. Budaya dan nilai itu dapat dianggap sebagai pola perilaku dari organisasi dan anggotanya dalam menghadapi eksternal adaption dan internal integration. Budaya atau nilai juga menjadi pola pikir dan pola perasaan manusia yang ada dalam organisasi atau masyarakat. Beberapa dimensi organisasi tampak ada 6 dimensi pokok, yaitu : (1). Strategy, (2). Structure, (3). Skill, (4). Staff, (5). Style, dan (6). System. Keenam dimensi tersebut terkait dengan dimensi shared values.

Pada awal revolusi industri banyak manajemen modern cenderung mengabaikan nilai dan budaya, sehingga pemimpin atau manajer hanya meningkatkan produksi dan pekerja hanya sebagai alat produksi. Pendekatan saat ini “more human”, maka peranan shared values dalam proses influence, persuasion atau encouragement amat penting dalam memotivasi anak buah dan masyarakat.

Kemampuan kepemimpinan untuk mengkomunikasikan shared values dari organisasinya secara luas dan mendalam kepada anak buah, akan dapat mendorong tercapainya kesuksesan organisasi dan kepemimpinannya. Share values merupakan suatu seni dari seorang pemimpin untuk membuka nilai dan norma serta budaya dasar dari organisasi yang dipimpinnya.

Kalau pemimpin dan yang dipimpin sama-sama berpegang kepada share values atau organizational culture, yang bersumber dari wahyu ilahi, tentu saja kita yakin bahwa organisasi atau masyarakat itu akan sukses. Kalo ternyata gagal, tentu ada factor non rasional yang harus dievaluasi. Dalam pandangan global, budaya itu bervariasi dalam 2 bentuk : (1). High Context Culture, seperti Jepang lebih mementingkan siapa dan bagaimana orangnya daripada katanya, dan (2). Low Context Culture, seperti Jerman, Swiss, Amerika, lebih mementingkan apa katanya dari pada siapa dan bagaimana. Bangsa Arab/Islam dikategorikan ditengah. Mungkin dapat kita artikan, bagi muslim kedua-duanya penting.

Dengan kajian kepemimpinan ini diharapkan kepada para aktivis dan pejabat-pejabat di berbagai institusi maupun perusahaan dapat mengubah budaya menjadi kepemimpinan yang seideal mungkin agar dapat memanfaatkan kekuatan dan menghilangkan kelemahan budaya di saat ini terutama dalam menyambut visi dan misi dari perubahan yang ada dalam membangun daerah kita yang baru. Wassalam.