Senantiasa terus belajar, memperbaiki diri dan memberikan kemanfaatan bagi yang lain. Hendaknya kehadiran kita ada sesuatu manfaat yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita, baik itu tenaga, pikiran, materi dll. Tampakkan wajah ceria, murah senyum, tidak sekadar simpati saja, tetapi bagaimana bisa berempati. Berbagi dengan sesama, mengutamakan kepentingan saudaranya, saling berlomba dalam kebaikan dan taqwa.


Sabtu, 07 Juli 2012

Ideologi Dunia (Kapitalisme, Sosialisme & Islam)

Oleh : Kurnia Akmal

Kapitalisme dan Sosialisme adalah mabda' yang lahir akibat kezaliman manusia. Mabda' ini lahir setelah terjadinya penindasan Gereja pada abad pertengahan. Dorongan yang lahir waktu itu menolak intervensi agama sama sekali atau menerima dengan syarat. Dari sinilah, sejarah Kapitalisme dan Sosialisme sebagai mabda' kemudian bermuara dan berkembang. Dari segi sumber ajaran, masing-masing mabda' tersebut bersumber dari akal. Akalah yang menentukan segalanya, baik yang berkaitan dengan akidah maupun sistemnya. Semuanya ditentukan oleh akal manusia.

Dari segi akidah, Kapitalisme dibangun berdasarkan ide pemisahan antara agama dengan kehidupan (fahsl ad-dîn ‘an al-hayât) atau yang populer dengan istilah Sekularisme. Kapitalisme masih mengakui eksistensi agama, tetapi agama tidak dibolehkan mengatur urusan kehidupan manusia. Agama hanya diberi otoritas untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dalam masalah ritual dan spiritual, sedangkan dalam masalah kehidupan, manusialah yang berhak mengatur sendiri urusannya. Sebab ini merupakan urusan manusia dengan manusia, bukan manusia dengan Tuhan. Karena akidahnya seperti ini,maka pandangan hidupnya menjadi pragmatis, yang melakukan dan meninggalkan sesuatu berdasarkan asas manfaat (pertimbangan untung dan rugi). Artinya, jika ada keuntungan akan dilakukan, tetapi kalau menyebabkan kerugian akan ditinggalkan. Inilah asas manfaat yang menjadi pandangan orang Kapitalis.Agar pandangan tersebut bisa direalisasikan, orang Kapitalis menetapkan Liberalisme (kebebasan) sebagai metodenya.Dengan kedua standar di atas, kesalahan Kapitalisme dapat dijelaskan, antara lain:

Pertama, dari segi kesesuaiannya dengan fitrah manusia, dapat dijelaskan, bahwa manusia mempunyai fitrah beragama yang dengan fitrah tersebut dia memerlukan Zat Yang Maha Agung dan itulah Tuhan. Kebutuhan manusia pada Tuhan sesungguhnya tidak terbatas pada waktu ibadah, sebab di luar ibadah pun manusia tetap manusia, yang mempunyai kelemahan, kekurangan dan karena itu memerlukan Zat Yang Maha Agung. Kebutuhan manusia kepada Zat Yang Maha Agung ini merupakan fitrah. Meskipun ketika keperluan ini tidak dipenuhi tidak akan menyebabkan kematian. Namun harus difahami, bahwa kelemahan dan kekurangan manusia mengharuskan adanya kebutuhan manusia pada Zat Yang Maha. Hal ini memustahilkan fitrah manusia terpuaskan oleh sesamanya. Karena itu, jika konsepsi mabda' ini mengajarkan pemisahan agama dari kehidupan, artinya akidah tersebut bertentangan dengan fitrah manusia yang lemah, yang seakan-akan manusia mempunyai fitrah Maha Kuasa, termasuk kekuasaan mengatur kehidupannya. Belum lagi akal yang menghasilkan mabda' ini cenderung berubah, mempunyai
keterbatasan dan tidak konsisten. Jika sumber mabda' tersebut seperti ini, berarti produk mabda'-nya juga sama, yakni sama-sama kacau, lemah dam terbatas.

Contoh terbaik adalah ketidakkonsistenan konsep ekonomi Kapitalis. Dalam Kapitalisme tidak pernah ada keadilan, tetapi karena mabda' ini diambang kehancuran akibat serangan Sosialisme, maka dirumuskanlah ide keadilan sosial, agar bisa memberantas ketimpangan sosial yang ditimbulkannya.
Kasus lain adalah perubahan konsep ekonomi klasik Adam Smith dan David Richardo. Konsep ini ini kemudian banyak ditinggalkan seiring dengan perubahan zaman. Setelah itu berdirilah mazhab baru, seperti Marxis, Keynesian, Neo-Keynesian, dan NeoKlasik. Ini sudah cukup untuk membuktikan kelemahan mabda' tersebut dari segi ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia.

Kedua, kesalahan mabda' tersebut dilihat dari segi asas karena tidak dibangun berdasarkan akal, dapat difahami, bahwa Kapitalisme adalah mabda' yang dibangun berdasarkan prinsip kompromi (al-hall alwasath) antara tokoh gereja dengan filsuf. Bukan karena partimbangan logis menurut akal. Artinya, mereka menetapkan langkah kompromi untuk mendamaikan konflik yang terjadi antara pihak gereja dengan kaum intelektual. Maka, dalam berbagai aspek mabda’ ini telah mengkompromikan antara yang haq dengan yang batil, antara Islam dengan kekufuran, dan antara petunjuk dengan kesesatan. Karena itu, Kapitalisme yang dibangun berdasarkan ide pemisahan antara agama dengan kehidupan itu bukan karena partimbangan rasional, melainkan karena usaha untuk mendamaikan konflik yang terjadi. Sedangkan Sosialisme dan Komunisme, dari segi akidahnya dibangun berdasarkan materi. Dalam pandangan Sosialisme, alam, manusia dan kehidupan berasal dari materi. Semua yang ada merupakan ujud materi. Perubahan dari satu bentuk benda kepada bentuk benda lain juga merupakan proses perubahan materi (materialism dialectic). Semua yang ada hanya mencerminkan ujud materi. Inilah yang disebut Materialisme. Akidah Sosialisme dan Komunisme mengatakan, bahwa materi merupakan asal segala wujud dan tidak ada yang lain. Mereka menolak adanya Allah sebagai Sang Pencipta. Dengan begitu jelas mereka menolak agama. Sebaliknya mereka menciptakan “agama” baru dengan menyembah dan mengagungagungkan benda. Mereka mengatakan, bahwa agama adalah candu yang akan merusak masyarakat.

Inilah yang menjadi kenyakinan Marxisme, Leninisme, Titoisme dan sebagainya. Karena akidahnya menolak agama, sistem kehidupannya kemudian dibangun berasaskan akal yang hampa dari ajaran agama. Dalam pandangan akal mereka, materi berubah dari satu bentuk kepada bentuk lain adalah ujud perubahan materi, yang biasanya dikenal dengan sebutan dialetika materialisme.Sedangkan cara untuk mewujudkan perubahan tersebut adalah dengan menciptakan pertentangan antara satu materi dengan materi yang lain; atau menciptakan konflik antara satu pihak dengan pihak lain.

Dari uraian di atas, kesalahan Sosialisme dapat difahami, antara lain:

Pertama, berdasarkan standarketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia, yang dapat disimpulkan, bahwa fitrah manusia memerlukan agama dan lemah itu telah dinafikan oleh Sosialisme. Alasannya karena agama telah dianggap sebagai candu bagi masyarakat. Dengan begitu, naluri beragama manusia telah dibunuh dan dikubur hidup-hidup. Ini jelas bertentangan dengan fitrah manusia.

Kedua, dilihat dari segi akidah Sosialisme yang tidak dibangun berdasarkan akal, sebaliknya berdasarkan materi. Ini artinya, bahwa materi dalam pandangan Sosialisme adalah azali. Tentu ini sangat bertentangan dengan akal, karena zat yang azali seharusnya tidak memerlukan kepada yang lain dan tidak terbatas. Sebaliknya materi jelas memerlukan kepada yang lain dan terbatas. Sebagai contoh, materi dianggap sebagai sumber kehidupan, sedangkan materi itu sendiri tidak dapat melahirkan dirinya sendiri.Disamping itu, materi mempunyai kelemahan dan keterbatasan. Matahari, misalnya, ketika terbit dari timur ke barat dan terus-menerus secara konsisten, tentu memerlukan garis orbit yang sekaligus merupakan sistem bagi terbit dan tenggelamnya matahari. Pertanyaannya adalah benarkah matahari mengikuti garis orbitnya tanpa ada yang mengatur? Tentu mustahil. Maka, benarkah matahari yang memerlukan garis orbit itu disebut tidak memerlukan apapun atau memerlukan siapapun? Tentu tidak masuk akal. Ini adalah salah satu contoh. Dengan demikian, Sosialisme telah gagal menjelaskan, bahwa materi bersifat azali.

Demikian halnya konsep dialektika materialisme Hegel yang kemudian dikembangkan oleh Karl Marx yang menyatakan, bahwa perubahan bentuk secara material dari satu bentuk kepada bentuk lain adalah dialektika materialisme dari satu kesatuan eksistensi yang di dalamnya terdapat tesis, antitesis dan sintesis. Mereka, misalnya, mengatakan bahwa kulit yang mengelupas dan proses terbentuknya kulit baru merupakan ujud dialektika materialisme. Sebab, di dalam struktur sel yang menyusun kulit terdapat protoplasma dan sitoplasma yang saling bertarung, sehingga terbentuk kulit baru setelah kulit yang lama mengelupas karena matinya sel yang ada di dalamnya. Mereka, berkesimpulan, bahwa setiap perubahan hakikatnya terjadi secara alami mengikuti kesatuan eksistensi. Tentu saja kesimpulan ini terlalu menyederhanakan masalah, yang sekaligus menunjukkan bahwa kesimpulan berfikir ini tidak dibangun dengan kerangka argumentasi yang rasional.

Kasus kulit mati dan berubah menjadi kulit baru di atas tidak bisa disederhanakan karena adanya protoplasma dan sitoplasma dalam struktur sel saja, sebab ada faktor-faktor lain yang juga ikut mempengaruhi, seperti kondisi cuaca, kekurangan zat tertentu dalam tubuh manusia atau pengaruh keadaan di luar diri manusia, yang semuanya itu justru menunjukkan bahwa perubahan material tersebut mustahil terjadi secara automatis karena adanya tesis, antitesis, dan sintesis dalam satu eksistensi material. Disamping itu, hakikatnya ini merupakan kemaujudan dan kemusnahan satu materi, dimana setiap materi akan mengalami kemaujudan dan kehancuran. Jadi ini sebenarnya bukan merupakan ujud kontradiksi yang terjadi dalam diri manusia.

Contoh yang lain adalah proses kloning hewan yang mencampurkan antara sel sperma jantan dengan sel telur betina sehingga menghasilkan keturunan baru merupakan ujud dialektika materialisme. Ketika ada dua hal yang saling berlawanan dalam satu kesatuan eksistensi, yaitu sel sperma dan sel telur. Namun, uniknya sel sperma dan sel telur tersebut agar bisa menjadi janin, harus mempunyai kromosom yang berjumlah 23 dengan 23 sehingga sama dengan 46 kromosom. Jika jumlah kromosomnya kurang, maka tidak akan dapat dibuai menjadi zygot. Ini membuktikan, bahwa adanya sel sperma dan sel telur saja belum cukup, tetapi harus ada jumlah tertentu. Jumlah tertentu ini merupakan sunnatullah yang tidak dapat dilalui oleh siapapun. Setelah disatukan dalam jumlah yang pas, masih ada sunnatullah yang lain, yaitu harus dimasukkan dalam rahim hewan dan bukan tabung ataupun yang lain. Ini juga tidak dapat dihindarkan oleh manusia.

Jadi ini bukan merupakan proses dialetika materialisme, sebaliknya justru membuktikan eksistensi Zat Yang Ada di balik penciptaan tersebut. Zat yang menentukan keunikan proses dan keistimewaan masing-masing materi. Dengan demikian jelas, bahwa akidah Sosialisme ini tidak dibangun berdasarkan akal, tetapi dibangun berdasarkan materi. Ciri dan sifat-sifat material itulah yang mempengaruhi pandangan akidah tersebut.

Islam sebagai Agama dan Mabda'/Ideologi

Dalam konteks Islam sebagai agama dan mabda' dewasa ini memang tidak diemban lagi oleh sebuah negara, sehingga kesan Islam yang utuh dan komprehensif memang tidak kelihatan. Tetapi, kenyataan ini tidak membuktikan bahwa Islam tidak absah dan layak untuk menjadi agama dan mabda' alternatif. Sebab, harus dipisahkan antara realitas Islam saat ini dengan muatan ajarannya. Jika realitas Islam saat ini dipergunakan untuk menentukan kebenaran atau kesalahan muatan ajarannya, tentu merupakan tindakan yang menyesatkan. Lebih-lebih ketiadaan Islam dalam realitas kehidupan masyarakat dan negara saat ini bukan karena kelemahan Islam, tetapi karena usaha orang-orang kafir yang sengaja menghancurkan Islam dengan berbagai gerakan destruktif dalam Khilafah Islam waktu itu. Karena itulah, maka untuk menentukan sah dan tidaknya, tidak dapat dilihat dengan standar ini, tapi harus dikembalikan kepada kedua standar di atas.

Untuk itu harus difahami, bahwa asas akidah Islam adalah keimanan kepada Allah SWT, Malaikat, Kitab,Rasul, Hari Kiamat serta Qadha’ dan Qadar. Dengan asas akidah Islam seperti ini, Islam sebagai agama dan mabda' telah mengakui adanya Pencipta alam, manusia dan kehidupan. Sang Pencipta itu juga diakui sebagai Zat Yang Maha segalanya. Karena Dia tidak dapat disamakan dengan apapun dalam kehidupan mereka. Islam juga mengakui kelemahan dan keterbatasan manusia yang merupakan fitrahnya. Karena itu, manusia tidak dapat memisahkan diri dengan Allah SWT dalam keadaan apapun. Inilah yang melahirkan kesedaran mengenai perlunya aturan kehidupan dari Allah dan bukan dari yang lain, baik dalam bidang ibadah, ekonomi, politik, sosial, pendidikan, pemerintahan, sanksi hukum dan sebagainya.

Di sinilah penghargaan Islam kepada fitrah manusia. Fitrah manusia tersebut tidak dibunuh atau dibiarkan memenuhi keperluannya sendiri, namun diatur dengan baik sehingga seluruh keperluannya dapat dipenuhi dengan baik dan sistematis. Ini membuktikan, bahwa baik dalam konteks spiritual maupun politik, Islam tidak bertentangan dengan fitrah manusia. Sedangkan dari segi Islam dibangun berdasarkan akal dan bukan materi, ataupun jalan kompromi dapat dilihat dalam konsep tawhîd, yaitu konsep yang mengajarkan, bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Esa dari segi ulûhiyyah maupun rubûbiyyah. Konsep tawhîd ulûhiyyah adalah konsep pengesaan Allah sebagai satu-satunya Zat Yang disembah (wahdâniyyah al-ibâdah). Inilah makna ilâh yaitu al-ma’bûd (Zat yang disembah). Sedangkan tawhîd rubûbiyyah, mengajarkan pengesaan Allah sebagai satu-satunya Zat Yang Maha Pencipta dan Mengatur (wahdâniyah al-khalq wa at-tadbîr) seluruh makhluk yang ada.Konsep tauhid ini berangkat dari konsep pengesaan Zat Allah, bahwa tidak ada Zat lain yang berhakdisebut sebagai Tuhan.

Dengan demikian, rasionalitas konsep ketuhanan ini dapat dibuktikan: Pertama, dari aspek monoteis, ketika Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Zat yang Maha Esa, yang secara logis jika ada tuhan lai selain Allah, dunia ini pasti akan hancur. Dengan begitu, konsep Monoteisme, bahwa Allah adalah Zat yang Maha Esa adalah konsep yang rasional dan tidak bertentangan dengan realitas. Kedua, dari segi Zat, bahwa Tuhan harus azali sedangkan Zat Yang Azali itu harus tidak memerlukan (ghayr almuhtâj) pada yang lain dan tidak mempunyai keterbatasan (ghayr almahdûd). Secara nyata semua yang nampak pada alam, manusia dan kehidupan ini tidak ada satupun yang mempunyai ciri seperti itu, sehingga tidak satupun yang ada di dunia ini berhak untuk dijadikan sebagai Tuhan, baik manusia, alam atau kehidupan. Karena tidak ada yang lain, dan Dialah satu-satunya Zat tadi, maka Dialah yang berhak dipertuhankan.

Konsepsi tawhîd ini juga menyatakan bahwa tidak ada yang berhak untuk menciptakan maupun mengaturmanusia, alam dan kehidupan ini kecuali Allah SWT. Inilah konsep tawhîd yang diajarkan Islam. Karenaitu, Allah bukan hanya diesakan ketika sedang melakukan ibadah, tetapi juga diesakan dalam interaksi sosial, ekonomi, politik, pemerintahan dan sebagainya.

Dengan demikian, Islam anti Sekularisme apalagi Atheisme. Karena itu, pandangan hidup seorangmuslim harus dibentuk dengan dasar akidah ini, yaitu akidah yang memandang segala sesuatu yang menyangkut perbuatan dan benda yang digunakan untuk melakukan perbuatan berdasarkan standar halalharam, atau berdasarkan perintah dan larangan Allah. Aadapun cara untuk mewujudkan pandangan halalharam tersebut adalah dengan terikat dengan hukum Allah SWT. Wassalam.

Jumat, 22 Juni 2012

Kajian Kepemimpinan Ideal


Oleh : Ibnu Adam, ST., MM

Sebagai seorang muslim, begitu kita bicara tentang kepemimpinan maka jiwa dan pikiran kita langsung terkait dengan junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sebagai suri teladan (uswatun khasanah) dalam sikap dan perilakunya sebagai pemimpin.

Sejak dulu Islam bicara tentang imam terkait dengan makmum, sedangkan dalam pengetahuan manajemen modern, baru belakangan saja bahwa masalah inti kepemimpinan adalah hubungan antara pemimpin dan pengikutnya dalam ilmu manajemen banyak sekali pengertian dan definisi dari kepemimpinan. Demikian pula banyak sekali pengertian tentang kepemimpinan dalam Islam. Dalam konteks ini Nabi bersabda : Pemimpin/Imam diangkat tidak lain kecuali untuk diteladani (diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Abu Hurairah). Keteladanan dalam bentuk tingkah laku ini dimaksudkan untuk dapat mengantar pihak lain mengikuti apa yang dilakukan oleh pemimpin, sehingga dari sini kepemimpinan berarti upaya mempengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang dilakukan oleh pemimpin. Dari sini dapat dipaham mengapa Islam menekankan kepada pemimpin untuk tampil melakukan sesuatu terlebih dahulu, baru kemudian mendorong yang dipimpin untuk melakukannya, karena kepemimpinan adalah usaha mengajak oranglain melakukan sesuatu, maka sesuatu itu harus dapat dipahami. Bahkan kalau dapat dirasakan sebagai milik dari semua yang diajak itu, maka kegiatan musyawarah ditekankan untuk selalu dilakukan oleh pemimpin.

Dalam Islam masalah kepemimpinan ada syarat-syaratnya, berarti ada seleksi, tidak bisa setiap orang merasa dirinya pantas menjadi pemimpin. Proses seleksi itu tergantung menjadi pemimpin apa? Keahlian dalam memimpin adalah “Intangible”, sulit diukur dan diuraikan. Maka James Mac Gregor Burns menyatakan bahwa kepemimpinan adalah sesuatu yang sering kita temukan tetapi sedikit sekali kita pahami (leadership is one of the most observed but the least understood phenomena on earth).

Secara sederhana dapat dilihat bahwa inti proses kepemimpinan adalah : (1), Establish Direction, membangun visi masa depan jangka pendek dan jangka panjang, bersama dengan strategi dalam menghasilkan perubahan dan kemajuan, (2). Aligning People, menyatukan langkah dan gerak pengikutnya dengan mengkomunikasikan arah danuntuk  visi itu kepada anggotanya, dan (3). Motivating and Inspiring, mendorong dan memberikan inspirasi  orang lain untuk maju. Selain itu kepemimpinan dilandasi dengan proses-proses manajemen seperti planning, organizing, dan staffing, controlling dan problem solving.

Johm W. Gardner dalam “On Leadership” (New York : Press-Mc Millan, 1990), mendefinisikan kepemimpinan merupakan proses persuasif atau dimana individu atau sekelompok orang memasuki organisasi besar akan mampu mempengaruhi pimpinan atau membuka nilai baru terhadap pimpinan dan pengikutnya. Saat terakhir ini kepemimpinan merupakan proses perubahan, karena saat ini pengikut atau yang dipimpin makin tingi pendidikannya. Tidak ada solusi yang baku untuk menjadi pemimpin yang baik (there is no standart solution to becoming a good leader).
Namun pemahaman mendasar tentang perilaku manusia merupakan syarat penting menjadi pemimpin yang baik dan kepemimpinan tidak dapat dpelajari melalui teori manajemen atau psikologi saja, melainkan harus ditumbuhkembangkan melalui pengalaman secara teratur dan sistematis.
            

Profil Pemimpin 

Secara teoritis ada dua pandangan yang berbeda sejak dahulu tentang mencetak pemimpin. Teori pertama beranggapan bahwa pemimpin tidak dilahirkan, tetapi diciptakan (leaders are not born but made). Teori selanjutnya kepemimpinan tampaknya pandangan bahwa seorang pemimpin membawa sifat-sifat kepemimpinan sejak lahir telah kurang mendapat dukungan dalam praktik. Anggapan-anggapan teori tersebut dapat dibenarkan tetapi realitanya diolah dengan pendidikan dan latihan beberapa ilmu agar kepemimpinan itu dapat ditumbuhkembangkan.

Dalam Islam, paling tidak ada dua kata yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk kepada kepemimpinan yaitu : Imam dan Khalifah. At-Tabrasy dalam tafsirnya mengemukakan bahwa kata imam mempunyai makna sama dengan khalifah. Hanya saja kata imam digunakan untuk keteladanan, karena ia terambil dari kata yang mengandung arti depan, berbeda dengan khalifah yang diambil dari kata belakang. Keberadaan di “belakang” menjadikan seorang pemimpin harus mengikuti sesuatu yang didepannya. Dalam hal ini yang mengangkat menjadi khalifah yaitu Allah, serta mengikuti kepentingan dan kehendak umat yang dipimpin dan memilihnya. Dari sini juga dipahami bahwa kepemimpinan adalah amanat dari Allah dan dari yang dipimpin.

Keberadaan seseorang sebagai imam atau pemimpin mengandung arti keteladanan, yaitu dituntut untuk tampil ke depan memberi contoh serta bertanggungjawab atas yang dipimpin. Memang kenyataannya sangat sulit untuk menjalankan amanat sebagai pemimpin, terutama untuk berbuat adil, karena lawan dari keadilan adalah penganiayaan. Sehingga beberapa sifat penting dari pemimpin yaitu, sifat adil, baik terhadap diri, keluarga, manusia, lingkungan, maupun terhadap Allah SWT.

Adapun sifat-sifat pemimpin ideal sesuai dengan kriteria sifat para Nabi, antara lain : (1). Ash-Shidiq, sifat ini bukan hanya berarti kebenaran dalam dalam bercakap tetapi juag kesungguhan dalam mengajak dan memimpin, (2). Al-Fathanah, bukan hanya berarti kemampuan ilmiah, tetapi kecerdasan menghadapi situasi yang sulit serta kemampuan mengatasinya, (3). At-Tabligh, merupakan bukan hanya sekedar menyampaikan apa yang diperintahkan, tetapi juga tidak menyembunyikan sesuatu yang seharusnya diketahui oleh yang dipimpinnya, atau dengan kata sifat ini mengharuskan adanya keterbukaan dari pemimpin, dan (4) Al-Amanah, yakni kepercayaan dari yang memberi kepemimpinan sekaligus amanat di dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan.
   

Share Values 

Dalam kepemimpinan, terdapat strategi manajemen yang dikenal dengan istilah corporate culture, organizational culture atau share values. Hal ini merupakan kekuatan dan kelemahan dari suatu organisasi. Budaya dan nilai itu dapat dianggap sebagai pola perilaku dari organisasi dan anggotanya dalam menghadapi eksternal adaption dan internal integration. Budaya atau nilai juga menjadi pola pikir dan pola perasaan manusia yang ada dalam organisasi atau masyarakat. Beberapa dimensi organisasi tampak ada 6 dimensi pokok, yaitu : (1). Strategy, (2). Structure, (3). Skill, (4). Staff, (5). Style, dan (6). System. Keenam dimensi tersebut terkait dengan dimensi shared values.

Pada awal revolusi industri banyak manajemen modern cenderung mengabaikan nilai dan budaya, sehingga pemimpin atau manajer hanya meningkatkan produksi dan pekerja hanya sebagai alat produksi. Pendekatan saat ini “more human”, maka peranan shared values dalam proses influence, persuasion atau encouragement amat penting dalam memotivasi anak buah dan masyarakat.

Kemampuan kepemimpinan untuk mengkomunikasikan shared values dari organisasinya secara luas dan mendalam kepada anak buah, akan dapat mendorong tercapainya kesuksesan organisasi dan kepemimpinannya. Share values merupakan suatu seni dari seorang pemimpin untuk membuka nilai dan norma serta budaya dasar dari organisasi yang dipimpinnya.

Kalau pemimpin dan yang dipimpin sama-sama berpegang kepada share values atau organizational culture, yang bersumber dari wahyu ilahi, tentu saja kita yakin bahwa organisasi atau masyarakat itu akan sukses. Kalo ternyata gagal, tentu ada factor non rasional yang harus dievaluasi. Dalam pandangan global, budaya itu bervariasi dalam 2 bentuk : (1). High Context Culture, seperti Jepang lebih mementingkan siapa dan bagaimana orangnya daripada katanya, dan (2). Low Context Culture, seperti Jerman, Swiss, Amerika, lebih mementingkan apa katanya dari pada siapa dan bagaimana. Bangsa Arab/Islam dikategorikan ditengah. Mungkin dapat kita artikan, bagi muslim kedua-duanya penting.

Dengan kajian kepemimpinan ini diharapkan kepada para aktivis dan pejabat-pejabat di berbagai institusi maupun perusahaan dapat mengubah budaya menjadi kepemimpinan yang seideal mungkin agar dapat memanfaatkan kekuatan dan menghilangkan kelemahan budaya di saat ini terutama dalam menyambut visi dan misi dari perubahan yang ada dalam membangun daerah kita yang baru. Wassalam.